
|
|
Katepe Tekab
Siang menjelang sore itu, 22 September 1983, Uwan bersama rekan Djadjat
Suhardja sedang melaju pelan menuruni Bukit Dago Utara. Bandung sedang
berangin, menuju musim hujan. Flamboyan berbunga meriah seantero Bandung
Utara, warna warni indah sekali.
Kami sedang meninjau kemungkinan menggalang partisipasi warga kota untuk
menghijaukan Bandung. Sebagai seorang environmentalist yang menginginkan
tingkat kenyamanan tinggi dalam menjalani hidup, Uwan sangat mendambakan
kembalinya Bandung tempoe doeloe. Gemah ripah loh jinawi, tata tenteram
kerta raharja. Pokoknya sejuk, hijau, berbunga, rindang dan lestari serta
didukung keramahan warga kota. Kota ini memang cukup lama dulunya disebut
parijs van java.
Evaluasi kami waktu itu, kota yang dirancang hanya untuk 300.000 orang
saja telah penuh sesak oleh 2 juta orang lebih. Beban kota mendekati 7
kali lipat, sehingga dapat dibayangkan akibatnya pada penurunan daya dukung
lingkungan. Air bersih sulit diperoleh, macet kemana-mana. Polusi terutama
di kawasan industri Bandung Selatan ditimpali dengan pertumbuhan pemukiman
gersang di seluruh wilayah. Masalah lahan kritis Bandung Utara sempat berkembang
menjadi isu lingkungan nasional.
Dua hari sesudah keliling kota, kami mengundang belasan LSM dan pencinta
alam untuk membahas peluang menggerakkan partisipasi warga masyarakat dalam
menghijaukan kota. Semua sepakat dan langkah-langkah kongkrit dirumuskan.
Berbagai LSM muncul dengan ide-ide taktis-strategis, umumnya cukup cemerlang.
Maka dibentuklah aliansi dengan nama Katepe tekab, singkatan Kerja Tanam
Pohon Tanah Kosong sekitar Bandung.
Tentu mendapat tantangan berat, terutama dari birokrat kota yang dikomandoi
oleh Dinas Pertamanan. Pulang maklum, waktu itu keberadaan LSM sangat dicurigai
dan dinilai politis karena umumnya mereka berbasis aktivitas kampus. Dan
lain lagi, tentu akan mengganggu periuk nasi. Tapi, aliansi terus
saja beraktifitas. Pembibitan secara serius dilakukan di empat belas lokasi,
kontak dengan developer dan para RT/RW di kawasan percontohan serta melobby
walikota Ateng Wahyudi yang baru saja diangkat.
Untuk membendung sabotase dan rintangan berbagai pihak, kami menghadirkan
Pak Emil selaku menteri LH membuka pentas musik bertema bandung Lestari
di halaman kampus ITB. Walikota berikut jajarannya, walau bermuka masam
dan kentara ketidaksukaannya, terpaksa hadir mendampingi menteri. Tiba-tiba,
wajah walikota berubah drastis setelah melihat pembawa acara ternyata putri
kesayangannya yang cantik, mahasiswi Fikom Unpad. Blitzkrieg, sebuah strategi
yang jitu untuk membungkam aparat kota. Rintangan pupus sudah.
Pemda mendapatkan pemaparan gagasan lengkap dari Uwan dan pengarahan
dari Pak Emil. Kita mengembangkan wacana tentang partisipasi dalam pengelolaan
lingkungan hidup sesuai UU no.5 tahun 82.
Setelah itu Walikota berkawan dengan Katepe tekab. Interaksi yang intensif
dengan beliau menginspirasinya untuk mencanangkan slogan Bandung bersih,
hijau berbunga disingkat Bandung Berhiber.
Katepe tekab bekerja penuh semangat, dinilai berhasil menggalakkan
partisipasi warga kota. Prestasi yang patut dicatat antara lain : (a) Walikota
bikin Perda yang mengharuskan setiap IMB disertai perjanjian untuk menanam
3 batang pohon, jenis pohon buah-buahan atau pohon pelindung lainnya. (b)
Adanya kontrak dari developer untuk menghijaukan kawasan pemukiman yang
dibangunnya. (c) Proyek pusat untuk menghijaukan lahan kritis Bandung Utara
sebagian besar dikerjakan oleh aliansi. (d) Berhasil menggagalkan rencana
pelebaran jalan dago yang berniat akan menebang pohon damar yang sudah
ratusan tahun umurnya. (e) Kontrak dengan kampus-kampus juga berhasil digalang,
kalau tak salah 9 kampus. Demikian juga, kontrak dengan kota-kota seperti
Cirebon, Kadipaten, Sumedang, Garut, Ciamis, Bogor dan Tasikmalaya.
Sewaktu resmi meninggalkan Bandung akhir 1985, Uwan rasa lebih 3 juta pohon
tertanam di Jawa Barat.
Padang yang panas dan kering sebetulnya bisa mengambil pola serupa,
menggalakkan partisipasi warga kota untuk mengembangkan sumber paru-paru
kota. Apalagi dengan hitungan transparan, tentu akan cepat mendapat kemajuan.
Caranya :
-
Pemda membuat Perda yang mengharuskan setiap mengeluarkan IMB wajib menanam
3 pohon di halamannya.
-
Pemda bekerja sama dengan pengembang untuk menanam pohon pelindung bernilai
ekonomi tinggi (seperti jenis mahoni, albazia, surian, dll). Perawatan
dan hak pemanenan 15-20 tahun mendatang ada pada warga kompleks dan pengembang
serta retribusi proporsional untuk Pemda. Kontrak kerja didukung legal
aspek dan kalau perlu dilegitimasi oleh DPRD.
-
Pemda bekerja sama transparan dengan masyarakat, pemuda, kelurahan atau
RW, dengan kaum dan suku bila bentuknya ulayat dll. Pemda menyediakan bibit,
masyarakat menanam dan merawatnya. Hak pemanenan oleh masyarakat namun
bayar retribusi kepada pemda. Sebagian hasil dipergunakan untuk penanaman
kembali dan perawatan lanjut.
-
Menawarkan kepada pihak swasta untuk mengelola berbagai ruang terbuka hijau
(RTH) serta mengembangkan RTH baru (misalnya gunung Padang dan bukit gado-gado;
bekas terminal lintas bila telah pindah ke Aie Pacah; sepanjang pinggir
pantai; jalan kontrol proyek pengendalian banjir; bekas bandara Tabing
bila telah pindah ke Ketaping, dll).
-
Mengembangkan SDM berwawasan pelestarian dan pengembangan masyarakat untuk
menginisiasi peran serta warga kota. Mungkin bisa berbasis sekolah dan
perguruan tinggi disamping kalangan pemuda dari berbagai kelurahan.
Aktifitas menggalang partisipasi warga Bandung dulu, sampai kini masih
mendatangkan kenangan manis. Terlebih kalau pulang ke Bandung, rasanya
Uwan masih tetap salah seorang warganya.***
kembali ke halaman utama
|