HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Abang Saragih dan Rejeki Mahoni

Hila, Nopember 1996. Di penghujung sore itu, waktu jeda lokakarya internasional pembangunan kawasan pesisir berbasis kerakyatan (community based coastal and marine management workshop) di kampus perikanan Universitas Pattimura, Uwan terlibat diskusi hangat dengan pengelola kampus, kawan-kawan LSM Maluku dan partisipan dari Kanada. Debat berkisar tentang bagaimana menghidupi kampus lapangan hasil hutang internasional itu, bagaimana memandirikan kampus sekaligus memberdayakannya.

Sejawat Uwan Bob Weno yang tungganai kampus, Cliff Marlessy dari Irian, Svend Manuputty dan Mien Simatauw dari Hualopu serta Sandra orang Kanada yang pandai berbahasa Indonesia. Sebagai konsultan tak resmi untuk pembangunan kelautan dan kenelayanan rakyat  di Maluku Uwan dimintai komentarnya.

Ide Uwan, perlu dikembangkan sustainable unit berbasis profit di kampus Hila yang terintegrasi dengan sistem praktek lapangan mahasiswa. Uwan mengusulkan budidaya ikan hias karena potensi keanekaragaman perairan Maluku sangat tinggi, bahkan mungkin tertinggi di dunia.

Ide ini mestinya masuk akal, khususnya bila menoleh ke negara lain. Republik Guam rupanya menjadikan ikan hias sebagai komoditi ekspor andalan. Demikian pula, Universitas perikanan Guam dikenal memiliki berbagai keahlian bersangkutan dengan pola budidaya ikan hias berikut teknologi pendukungnya.

Sore itu, rencana dirancang bersama, sekaligus membahas kemungkinan pendanaannya dengan kawan-kawan dari Kanada. Teknisnya berdasarkan tahapan  :

  •  Transect - Identifikasi kawasan terumbu karang yang tingkat keanekaragamannya sangat tinggi, lalu dilakukan penghitungan jumlah dan jenis ikan hiasnya. Untuk Maluku, titik potensial sangat banyak, bertebaran di seluruh penjuru propinsi seribu pulau itu.
  •  Sudah barang tentu jumlah dan jenis eksotis dijadikan tolok ukur memilih lokasi, sekaligus dipilih yang dekat dengan kampus Hila. Uwan sempat menyelam di  beberapa lokasi untuk mengkuantifikasi potensi yang tersedia.
  • Pilihan jatuh ke satu lokasi sejarak 14 kilometer arah barat kampus Hila.
  • Dibuatlah 4 unit calon terumbu karang tiruan (artificial coral reefs) yang tiap unit bahannya terdiri dari 6 potong bambu panjang 4 meter. Keenam bambu diikat tali ijuk membentuk limas. Di tiap titik pertemuan bambu dipasangkan 2 ban bekas ukuran sedang yang diperkuat dudukannya dengan juga memanfaatkan jasa tali ijuk.
  • Terumbu tiruan kemudian diletakkan di titik potensial yang dipilih, pada kedalaman sekitar 6 – 7 meter. 2 unit diletakkan sebelah pinggir kawasan dan dua lagi mengapung diatasnya. Ke empat unit diikatkan ke pelampung (mooring), sehingga posisinya mengambangnya tetap.
  • Enam bulan setelahnya dilakukan penyelaman evaluasi,  untuk menilai sudah berapa banyak koloni terbentuk dan tingkat keragaman ikan hias di terumbu tiruan. Hal yang sama dilakukan tiap bulan sesudahnya.
  • Genap 9 bulan, tim menilai sudah cukup layak untuk dilakukan evakuasi terumbu tiruan itu. Pada subuh yang sejuk, terumbu tiruan yang sudah dihuni berbagai koloni dan ribuan ikan hias diangkat ke kedalaman 2-3 meter (dengan menarik tali mooring) sehingga posisinya menggantung.
  • Ke empat mooring ditarik sangat pelan dengan boat, menuju kampus Hila. Penarikan hanya berjarak 500 meter perhari, 2 kali perminggu. Evakuasi rata-rata menelan waktu 1 jam. Walhasil, 14 minggu kemudian, evakuasi sukses tiba di perairan depan Kampus Hila.
  • Adaptasi sebulan, lalu dilakukan kembali penghitungan koloni dan keragaman jenis. Cukup bervariasi dan bernilai tinggi.
  • Pengembangan lanjut adalah menanam terumbu tiruan baru sebanyak 100 unit di sekeliling koloni transmigran ikan hias yang sukses bedol desa itu. Bob dan kawan-kawan Uwan  menargetkan kelak 10 hektar laut akan menjadi kawasan budidaya ikan hias dalam tempo 5 tahun.
  • Dilaut budidaya ikan hias seluas 10 hektar inilah nafkah operasional kampus Hila tertumpang, tentu berikut lapangan kerja dan sarana penelitian bagi mahasiswanya.
  • Skenario lanjut adalah pemasaran/ ekspor ke Amerika, menggunakan jasa Garuda yang terbang malam melalui route Denpasar - Biak – Honolulu – Los Angeles.
Pertemuan sore itu menginspirasi pula tentang perlunya SDM kelautan, khusus budidaya ikan hias. Mumpung ada kerjasama serius dengan university of Guam, disepakati 2 orang staf Unpatti akan disekolahkan, kalau perlu sampai S3. Enak pula terdengar sebutannya : doktor ikan hias.

Hari ini dan sejak berkecamuknya Maluku, Uwan lepas kontak dengan sejawat jaringannya disana. Tak ada lagi kabar pertumbuhan unit profit Hila itu. Kita hanya dengar, kegiatan seluruh kampus Unpatti diliburkan sampai waktu tak ditentukan. Kejadian pula, dalam rangka krisis dan perlakuan efisiensi, route internasional Biak juga ditutup sementara. Entah sampai kapan.

Namun ide itu tak perlu lepas dari ingatan. Kalau saja ada yang mau dan berminat melakukannya di Sumbar, terutama dalam upaya memberdayakan masyarakat nagari pesisir pantai paska otonomi, budidaya ikan hias adalah sebuah peluang strategis.***

kembali ke halaman utama