Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Alpina

Di pertengahan Maret 1978 itulah, Bambang Broto akhirnya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja. Bambang adalah salah satu tokoh perhimpunan pendaki gunung dan penjelajah rimba Wanadri dari bandung, yang menyambung hidupnya dengan menjadi karyawan toko Jayagiri. Jayagiri masa itu dikenal sebagai toko milik Doddy Kasoem, salah seorang selebrities Bandung, yang mempelopori pemasaran alat-alat olahraga alam bebas (out-door sport).

Di Wanadri Bambang dikenal sebagai Bambang Buta, karena badannya yang sangat kekar serta penuh cambang brewokan. Namun begitu, suara dan tutur katanya halus. Terlebih pula hatinya sangat baik. Rekan uwan satu ini boleh disebut bertampang Rambo tapi berhati Rinto.

 Sekeluarnya dari pekerjaan, berbekal mesin jahit bekas dan sedikit modal sumbangan kawan-kawan, ia bertekad meningkatkan karirnya menjadi desainer sekaligus produsen. Dibelinya kain kiloan di gang Haji Tamin dan benang yang kuat dari Pasar baru. Begitulah. Ia menghabiskan banyak waktu untuk merancang dan mengujicobakan hasil jahitannya. Karena banyak melihat berbagai produk luar negeri ditambah dengan pengalaman menggunakan, akhirnya pada pertengahan Mei 1978 meluncurlah produk generasi pertama celana lapangan bermerek dagang Alpina. Inilah pelopor produk out-door karya asli putra Indonesia. Produk ini lahir dari gang sempit kawasan Cisitu Lama, tak jauh dari tempat Uwan mengontrak kamar. Bambang menggunakan kamar kecil yang menyempil disamping teras rumah orang tuanya.

 Dalam memasarkan produk generasi pertama itu, strateginya adalah dengan memprioritaskan penjualan kepada kawan-kawan yang banyak dikenal massa. Tepatnya kalau bisa kepada public figure seperti aktifis mahasiswa, pencinta alam legendaris dan tokoh masyarakat. Makanya sebagai aktifis kampus, Uwan dipilih menjadi salah satu konsumen pertama.
 Dalam tempo singkat, 4 kodi celana Alpina bertebaran di kawasan Dago atas, khususnya karena dipakai oleh aktifis mahasiswa ITB dan Unpad serta para tokoh pencinta alam. Celana ini serasi betul bila dikombinasi dengan jacket GI yang waktu itu sedang “chic” di kalangan anak muda Bandung.

 Jadilah, berbagai demonstrasi mahasiswa yang marak waktu itu menuntut pembatalan NKK/ BKK dihiasi oleh penampilan Alpina. Disamping harganya relatif murah, desain ini enak dikenakan serta kuat sekali. Bila dipakai untuk acara lapangan sejenis demo tampilannya sangat atraktif. Makanya, hampir seluruh rekan Uwan memakai celana Alpinanya berketerusan. Sambung menyambung, jarang dicuci. Kalau perlu hanya dijemur saja di pelataran student center agak sebentar.

 Akibat lanjut dari strategi pemasaran ini, pesanan berdatangan. Mengalir deras sehingga perlu rekrut penjahit besar-besaran. Tak sampai setahun, produk ini telah memasyarakat secara luas. Produknyapun berkembang, tidak sekedar celana saja. Dihadirkan pula jenis ransel dengan berbagai desain dan ukuran, baju lapangan, rompi, jacket tebal berlapis untuk ke gunung, topi rimba, ikat pinggang, tenda dan sampai-sampai peralatan pendukung seperti rubber-boat, carmantle, carabiner, pisau dll.
 Pemasaranpun menjelajah  ke berbagai propinsi, bahkan ke mancanegara. Surprise betul, tahun 1986 Uwan menemukan produk Alpina dijual orang di Kathmandu – Nepal. Artinya, produk ini sudah manggung setara dengan produk kelas dunia lainnya. Kalau tak salah, Uwan beli ransel kecil tambahan untuk keperluan berkunjung ke desa terpencil disana dalam rangka meninjau pengelolaan pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

 Demikianlah, sampai hari ini Uwan menjadi konsumen fanatik dari produk Alpina. Berbagai kebutuhan peralatan lapangan selalu diprioritaskan merek Alpina, walau harganya jauh diatas produk sejenis lainnya. Untuk memperoleh produk baru, kalau sedang ada urusan ke Bandung, selalu Uwan sempatkan singgah ke Alpina House di Cisitu Indah. Terkadang hanya sekedar cuci mata saja. Rasanya konsumen sejenis Uwan tak kurang banyaknya, terutama mereka yang dulu pernah di Bandung. Merekalah captive market Alpina.

 Tahun lalu, Pak Ucok Silungkang menghadiahi Uwan kopiah khas kampungnya yang berdesain baru. Bahannya sudah ditenun dulu dengan kombinasi benang emas sebelum dijahit menjadi kopiah. Enak dipakai, cukup atraktif dan logikanya mesti diminati konsumen lokal maupun perantau.

 Kopiah ini Uwan pakai dalam seminar-seminar, tampil di TVRI Padang dan di berbagai helat perkawinan. Banyak yang bertanya dimana bisa membelinya. Namun menurut Pak Ucok, pemasaran belum terdongkrak. Mungkin karena banyak pilihan lain sebagai produk kompetitor atau mungkin pula karena Uwan belum public figure di Sumbar.
 
kembali ke halaman utama