HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Angkutan Massal

Walter Hofer, teman Uwan berkebangsaan Swiss, menetap di sebuah pedesaan di kaki pegunungan Alpen. Tepatnya di pinggir kota Interlaken. Dia betul-betul menikmati hidup pedesaan, di lahan pertaniannya yang luas. Padang rumput dan bebungaan krissan kuning putih terhampar sejauh-jauh mata memandang. Pegunungan Alpen memanjang ke timur desa, sesekali menyisakan pemandangan indah atap Eropah Jungfraujoh kala musim semi.
Istrinya menanam bunga potong yang dua kali seminggu dikirim ke kota besar Zurich, Bern dan Geneva. Ia membudidayakan bunga mawar, krissan, gerberra dan beberapa jenis perdu pendukung. Putri tunggal mereka yang berhobby bunga dan menjadi florist mengelola outlet yang berkembang pesat. Di rumah kayu 5 kamar ditengah-tengah perkebunan bunga potong itulah mereka bertiga menjalani hidup bahagia.
Bunga potong dikemas sedemikian rupa siap jual, dirangkai indah dalam plastik bening yang tersusun dalam keranjang-keranjang. Keranjang bunga ini tiap rabu dan sabtu ikut berjejalan dengan produk desa lainnya melaju ke kota. Pengiriman bunga segar selalu sampai di tujuan, yang kata Ibu Hofer dalam tingkat keterlambatan dibawah 5 menit ! Memang, tingkat ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta api di Eropah sudah sangat terkenal.
  Walter Hofer sendiri bekerja di kantornya yang sederhana di pusat kota Bern. Jaraknya tidak terlalu jauh untuk ukuran Swiss, hampir 200 kilometer saja. Artinya ia menempuh jarak sekitar 400 kilometer tiap hari kerja. Waktu beberapa hari menumpang menginap dirumahnya, 10 menit menjelang jam tujuh Uwan ikut Hofer bergegas menuju stasiun desa karena jam 07.00 tepat kereta berangkat. Kalau tidak salah sekitar jam 9.15 kereta masuk stasiun Bern, dilanjutkan jalan kaki saja kekantor. Uwan disuruh keliling kota dulu sampai sore. Cukup dengan jalan kaki karena pedestrian kota nyaman sekali. Sorenya, tepat jam4.30 kami telah meluncur pula kembali ke rumah. Makan malam dimulai tepat 19.00.
Uwan kira, ribuan penduduk Swiss menjalani pola hidup keluarga Hofer. Tinggal di desa dan menjadi Commuter karena tiap hari bekerja ke kota. Angkutan teratur -  commuter train, cepat, nyaman dan terjamin keselamatan membuat warga Swiss menyenangi pilihan itu. Tentu di kereta mereka sudah bisa memulai pekerjaannya. Membaca, membuat draft, mengkoreksi atau kalau perlu menambah lagi jam tidur. Di jaman sekarang tentu lengkap dengan handphone dan laptop.
Apa yang bisa kita tiru dari pengalaman diatas ? Salah satunya tentulah angkutan massal, baik untuk barang maupun manusia. Terhenyak oleh berita minggu lalu tentang kecelakaan tragis kereta api di Anai,  kita perlu mengambil hikmahnya. Nampaknya mengembangkan angkutan kereta perlu kita kaji serius. Angkutan kereta Padang - Bukittinggi sampai ke Payakumbuh pulang pergi; Padang - Padang Panjang - Solok - Padang Sibusuk di Sawah Lunto - Sijunjung; Padang - Pariaman mungkin sampai ke Simpang Empat di Pasaman Barat; patut untuk diteliti dan dihitung kelayakan berikut implikasinya.
Bila angkutan massal ini mungkin dan bisa dikembangkan kembali maka setidaknya ada beberapa hal terjawab :
· Ada  alternatif bagi pengguna jasa angkutan untuk mencapai tujuan perjalanannya. Akan sangat terasa manfaatnya pada saat beban puncak, misalnya ribuan anak sekolah dan mahasiswa yang tiap sabtu minggu pulang ke kampung atau rekreasi naik gunung. Demikian pula pada hari besar dan liburan.
· Alternatif pula bagi pekerja yang tinggal di luar kota, yang tiap hari pulang pergi mencari nafkah ke kota Padang.
· Mereduksi kemacetan dan kepadatan lalu lintas jalan dari dan ke Padang serta dalam kota, yang akhir-akhir ini terasa semakin menyesakkan.
· Sarana transportasi murah bagi rakyat Sumbar yang kemampuannya pas-pasan
· Menghemat biaya pemeliharaan jalan
· Penghematan biaya lingkungan karena polusi kendaraan bermotor akan menciut jauh.
· Membuka lapangan kerja bagi angkatan kerja yang tiap tahun bertambah

 Tentu akan rumit rasanya membayangkan berbagai implikasi logis pengembangan itu. Mana relnya harus diperbarui; mungkin perlu lokomotif tambahan; gerbong yang nyaman; stasiun kereta diperbanyak dan dibangun efisien sebagai pusat ekonomi skala terbatas di lokasi strategis (ini artinya membuka lapangan kerja !); sampai-sampai mempersiapkan SDM pengelola jasa perkeretaapian. Berbagai sarana prasarana memang perlu dipersiapkan pula untuk menarik minat pengguna jasa kereta api.
Pola migrasi penduduk dan barang sedemikian rupa akan mengurangi kepadatan suatu kawasan, yang pada gilirannya memberikan tingkat kenyamanan hidup bagi warganya. Semua pihak berkepentingan harus segera duduk semeja membahas peluang itu.
Uwan sekali waktu pernah bercita-cita punya rumah kayu saja di hamparan kebun bunga dan buah dekat stasiun Kayutanam. Tiap pagi berangkat kerja mencari nafkah ke Padang naik kereta reguler tepat waktu.***

kembali ke halaman utama