
|
|
Bendi Wisata
Bukittinggi, kota kelahiran Uwan, adalah kota tujuan wisata andalan
Sumbar yang perlu mengembangkan potensinya. Disamping sekedar pemandangan
alam dan budaya lokal, wisatawan sebetulnya memerlukan suguhan bersuasana
khas Bukittinggi – antara lain sektor kendaraan wisata kota.. Betul, kita
perlu menghadirkan ciri khas atraktif berupa kendaraan lokal, yang
sebenarnya telah ada, yakni Bendi.
Untuk itu, perlu serius dipelajari pengelolaan kendaraan wisata
kota-kota dunia. Ambil contoh "Cable Car" di kota San Fransisco, "Skylift"
di pinggang pegunungan Alpen - Switzerland, "Gondola" di sungai-sungai
Venesia, "Jeepney" di kota Manila atau "Ricksaw" lorong-lorong kawasan
wisata Hongkong. Kendaraan wisata unik setempat akan selalu dikenang pengunjung.
Para wisatawan tentu tak segan-segan membayar untuk menikmati sensasi
"berbendi-bendi ke Sungai Tanang" yang akan mereka bawa pulang sebagai
oleh-oleh cerita. Bagi kota Bukittinggi, bendi sendiri disamping mempunyai
nilai historis, ia juga mata pencaharian. Mampu menampung ratusan lapangan
kerja.
Hematnya, perlu dilakukan pengembangan perbendian Bukittinggi.
Bahwa pengembangannya terbayang rumit, itu sudah pasti. Dibutuhkan pengorganisasian
yang lebih terarah; penataan pola jasa yang ditawarkan; peningkatan kemampuan
komunikasi para kusir; informasi budaya yang bisa diceritakan sepanjang
perjalanan (kusir sekaligus pramuwisata !); perbaikan konstruksi bendi
agar ergonomik untuk postur penumpang; pengaturan kotoran kuda agar tidak
menimbulkan polusi; standarisasi tarif; route untuk city tour; terminal
bendi berdesain menarik; sampai-sampai bagaimana harus tersenyum dan berlaku
ramah. Paling penting lagi dan perlu adalah kebijaksanaan pemerintah kota
untuk membolehkan bendi beroperasi pada jalur pedestrian sekalipun.
Bila sepakat, kita bisa saja segera memulai dengan :
-
Meminta hotel-hotel besar mensponsori pembuatan Bendi Wisata, sebagai model
percontohan. Bendi didesain seatraktif mungkin, penuh ukiran khas Minang,
pilihan kain dengan ragam hias warna warni lengkap “jumbai” dan umbul-umbul
menjulang. Tentu dengan kudanya yang tinggi bersih dan “berdegap”. Tiap
bendi memiliki sarana K3 standar, khususnya menampung kotoran dan kentut
kuda yang mungkin kurang sedap.
-
Mungkin disamping bendi desain umum namun ergonomis, juga dikembangkan
jenis terbuka/ bendi bugih desain baru dimana wisatawan dapat sepuas-puasnya
menghirup udara sejuk Bukittinggi.
-
Paralel dengan desain model, perlu diorganisir pula kelompok usaha perbendian,
yang pada saatnya akan memiliki badan hukum koperasi kusir bendi dalam
mengelola bendi wisata.
-
Secara bertahap dikembangkan SDM kusir bendi dengan kemampuan berbahasa
asing, meningkatkan kusir bendi menjadi pemandu lokal dengan input informasi
wisata sehingga kusir efektif sebagai pemberi jasa.
-
Menyusun berbagai paket rute wisata khusus bendi, dibedakan atas lama perjalanan
dan tarif standar (tidak diperbolehkan tarif dis-informasi yang merusak
suasana).
-
Pemda memfasilitasi pembangunan terminal bendi di kawasan strategis, lengkap
dengan sarana pendukungnya (toilet yang bersih, sarana belanja makanan
kecil dan minuman ringan, telpon umum, warnet dan terang benderang malam
hari).
-
Mengatur pola transportasi dalam kota sehingga dijamin bendi bisa beroperasi
secara aman, nyaman dan leluasa.
-
Pemda membangun jalur wisata khusus bendi di kawasan-kawasan tertentu,
misalnya kearah panorama baru; di dasar ngarai sianok; di pinggang gunung
Merapi / Singgalang; serta rute kunjungan ke desa-desa yang umumnya sepi
kendaraan seperti Sianok – Koto Gadang; Ampek Angkek; Kamang; pergi makan
siang ke Kapau, dll.
-
Publikasi atraksi bendi di berbagai media, khususnya promosi lengkap lewat
banner dalam produk internet tentang pariwisata sumbar.
Kita perlu segera menghadirkan citra wisata kota Bukittinggi
yang bernafaskan kerakyatan, yang menjamin pemerataan redistribusi kue
pariwisata. Dengan demikian, pengembangan pariwisata memperoleh legitimasi
sosial. Dan itulah pesona wisata Bukittinggi.***
kembali ke halaman utama
|