
|
|
Berkah Sampah
Minggu lalu Uwan ketemu Wisnu di Yogya. Ia menceritakan perjalanan nasibnya
sejak menganggur menyusul krisis ekonomi pertengahan 98 lalu. Setelah pesangonnya
sebagai bankir ludas, mereka sekeluarga nyaris bergantung pada penghasilan
istrinya sebagai guru SD bergolongan IIC. Tentu tak cukup, mana anaknya
yang besar harus masuk SMP tahun lalu.
Namun bagaimanapun kehidupan mesti jalan terus. Wisnu kerja serabutan
menutupi biaya keluarga. Masih tak cukup, ia terus putar otak mengatasi
problem basic need keluarga. Berbagai business Plan telah dirancang dan
ditawar-tawarkannya kepada bank untuk dibiayai dan calon investor. Tapi
tak ada yang berminat.
Akhirnya ia menemukan fenomena lingkungan yang kalau digarap serius
akan memberi hasil baik. Dalam hitungannya, pengelolaan sampah di kompleksnya
akan memberikan hasil menarik bila dipadukan dengan unit ekonomi lain.
Maka dikumpulkannya 9 pemulung yang biasa menjemput sampah kerumah-rumah
di Perumnas Minomartani, Ngagglik - Kabupaten Sleman. Perumnas ini terdiri
dari 2943 rumah dalam kawasan yang cukup luas.
Sebagai ekonom ia meyakinkan pemulung akan peluang yang cukup signifikan
bila sampah diolah secara terpadu. Jadilah, kelompok bisnis berbasis pemulung
dan pengangguran eks Bank swasta terkenal. Bersepuluh mereka menghadap
lurah untuk menyewa fasos-fasum kompleks seluas 500 m2 yang dijadikan depo
sampah. Sewanya setengah juta setahun dibayar belakangan. Depo dikhususkan
untuk gudang pengumpulan; hamparan pengomposan dan 8 kolam ikan lele ukuran
3 x 4 meter persegi.
Pelaksanaannya sebagai berikut :
-
9 pemulung tetap bekerja seperti biasa, menjemput sampah dari rumah ke
rumah. Sekitar jam 9 pagi semuanya sudah selesai. Pemulung mendapat
gaji dari retribusi sampah kompleks dan itu dinyatakan sebagai basic salary.
Nilainya rata-rata berkisar 200 – 250 ribu rupiah.
-
Dibawah koordinasi Wisnu, pemulung menyortir sampah menjadi onggokan plastik;
kaca; kaleng dan sampah organik. Sampah organik mencapai 75 %.
-
Plastik, kaca dan kaleng dikumpulkan pada karung khusus dan dijemput pembeli
dari pabrik-pabrik dua kali sebulan.
-
Disamping koordinator, Wisnu merangkap pemasaran dan membuka kontak hubungan
dengan berbagai pihak lain. Perguruan tinggi mau membantu menganalisis
kulaitas kompos, pihak pabrik mau membeli hasil sortiran dan pedagang ikan
mau memborong produksi lele.
-
Sampah organik dibuat kompos dengan pola terbuka (sistem aerob).
-
Pengomposan terbuka dilaksanakan dengan suku rendah (dibawah 70 derjat).
Bila suhu meninggi, dilakukan pembalikan dan penyiraman.
-
Pengomposan berlangsung 30 hari, dimana selama 15 hari proses dihasilkan
ulat/ belatung yang jumlahnya cukup banyak. Rata-rata depo menghasilkan
8 kilogram ulat belatung perhari.
-
Paralel dengan proses pengomposan, bibit ikan lele ditabur sebanyak 3000
ekor per-kolam yang ukuran bibitnya 4- 6 centimeter.
-
Makanan utama ikan lele adalah belatung yang fully protein tersebut, setengah
kilogram pagi dan setengahnya lagi sore hari.
-
Hari ketiga puluh lele dipanen untuk diganti dengan bibit baru. Panenan
berupa ikan lele berukuran berat 10 ekor perkilo. Artinya tiap kolam menghasilkan
300 kilogram lele siap goreng. Total produksi ikan perbulan jadinya 2,4
ton saja.
-
Kelompok pemulung terintegrasi ini memperoleh penghasilan perbulan cukup
banyak, yakni dari penjualan plastik-kaca-kaleng mencapai 4 juta rupiah.
Kompos seberat 14 ton berkontribusi 7 juta rupiah. Ikan lele justru tertinggi,
yakni 12 juta rupiah. Total jenderal 23 juta rupiah.
-
Penghasilan ini dibagi rata masing-masing 2 juta perorang, 3 juta sisanya
untuk membayar sewa depo 50 ribu perbulan, persiapan pembelian gerobak
baru dan sisanya dijadikan tabungan kelompok.
Melihat dampak positif ini, sejak awal 2000 Wisnu telah melanjutkan pengembangan
usahanya ke 5 perumahan lainnya di kabupaten Sleman. Ya, semacam ekspansi
bisnis yang patut mendapat acungan jempol karena mampu berkembang dimasa
sulit.
Sambil senyum simpul Wisnu menjelaskan bahwa perbulan take home pay
yang disetornya ke istri dirumah bersih 10 juta. Itu makanya, ia yang mentraktir
Uwan makan burung dara bakar di malioboro malam itu.***
kembali ke halaman utama
|