HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Biro Pemasaran Petani

Abbas Morento sore itu, Maret 1991, masih terengah-engah karena baru saja selesai dengan urusan penanaman cabe di 10 hektar lahan keluarganya. Kampung Abbas merupakan desa yang subur di utara kota Davao - Mindanao, tempat dimana 12 KK kaumnya survive ditopang oleh produktifitas lahan. Malamnya kami makin hangat berdiskusi tentang pola antisipasi Abbas menggerakkan ekonomi desanya.

Esok pagi Uwan diajak ke Biro Pemasaran hasil pertanian rakyat (sayuran, rempah-rempah dan buah-buahan). Biro ini milik pemerintah yang dikelola oleh anak-anak muda idealis lulusan Los Banos yang digaji profesional oleh pemerintah. Strategi peningkatan ekonomi rakyat disana, salah satunya adalah dengan memperpendek rantai perdagangan. Pemerintah Mindanao membangun fasilitas publik di seluruh sub-district (setingkat kecamatan). Fasilitas ini sepenuhnya didedikasikan untuk mendukung pemasaran produk petani. Mulai urusan informasi harga, urusan paska panen/ packing, mencari pembeli, mengurus dokumen eksport sampai-sampai membuka LC.

Pagi itu Abbas melaporkan komoditi yang dikembangkan, luas lahan yang ditanami, rencana panen serta jumlahnya. Sebentar saja, hanya 15 menit, Abbas menandatangani pernyataan kesediaan untuk memasarkan produknya melalui Biro. Termasuk didalamnya komitmen untuk mengalokasikan 2,5 % dari keuntungan bersih sebagai imbalan atas jasa Biro. Praktis sekali dan business-like. Biasanya menurut Abbas, dalam 2 minggu sudah diperoleh konfirmasi, siapa pembelinya dan berapa harga yang dipatok dalam kontrak.

Dengan pola ini, produk rakyat Mindanao bergerak merambah pasar, sehingga tidak sulit mencari “made in davao” di kota-kota besar Timur Tengah. Mereka memang punya pasar rutin ke negara-negara islam. Sudah pasti, musim haji adalah pemasaran puncak produk Mindanao. Kata Bapak Haji Bachtiar Effendi, Ketua DPRD Kabupaten Kutai, bila berbelanja buah-buahan di Mekah tak sulit menemui produk berlabel Davao.

Fasilitasi pemerintah yang diterima Abbas dan petani sejawatnya efektif untuk pergerakan ekonomi rakyat. Mekanisme ini jelas memutus rantai perdagangan sehingga marjin profit maksimal untuk petani. Otomatis pula meminimalkan porsi para rent-seeker (pedagang pengumpul, tengkulak, pemodal di Kabupaten maupun eksportir).

Pengembangan fasilitas publik untuk mendukung mekanisme demikian jelas menunjukkan pemihakan pemerintah kepada petani. Untuk itu, petani menunjukkan pula kerjasamanya dengan mentaati kontrak yang sudah dibuat dengan pembeli. Sekalipun harga melonjak naik, petani sejenis Abbas tetap berkomitmen dengan kesepakatannya. Ikut pola ini, pada pengalamannya terbangun suatu hubungan yang langgeng antara petani Minadanao dengan pembelinya dari seluruh dunia.

Sejalan dengan rencana tim perekonomian kabinet baru yang dikomandani oleh teman lama Uwan yang lain, Rizal Ramli, untuk memprioritaskan pengembangan infrastruktur pedesaan, hemat Uwan fasilitas publik sejenis Biro Pemasaran Davao layak dipertimbangkan.

Praktek yang sehari-hari Uwan terima sebaga petani sayur dan buah di dataran tinggi Lembah Gumanti misalnya menunjukkan, petani selalu menjadi pihak yang dirugikan. Mereka tidak paham informasi pasar; tidak tanggap terhadap perubahan komoditi yang diminati; harga lebih ditentukan oleh pedagang perantara; tahu tentang peluang eksport tapi tak mengerti bagaimana menggapainya; kalau panen raya sudah pasti harga lokal anjlok; petani pengumpul selalu lebih untung, dll.

Idealnya, pemerintah mulai mengembangkan unit sejenis Davao di sentra produksi rakyat Sumbar. Katakanlah yang selalu Uwan sebut-sebut sebagai multi-purpose community telecenter. Sebuah sarana yang memfasilitasi berbagai kebutuhan petani dalam memasarkan produknya. Sarana mengglobal yang dibangun ini memfasilitasi apa saja kebutuhan informasi petani, termasuk infrastruktur paska panen yang paling didambakan. Perlu dibangun unit penampung berpendingin/ cold storage atau trading house secara umum yang isa disewa petani bila harga sedang turun.

Pengalaman menunjukkan, penurunan harga untuk produk sejenis hortikultura biasanya tidak lebih dari sebulan. Umumnya dua minggu paling lama, harga sudah mulai bergerak naik kembali. Interval waktu dua minggu ini dapat disiasati petani dengan menyimpan dulu produknya di cold storage sampai harga membaik. Kalaupun lama sekali harga baru naik kembali, tidak soal. Karena penyimpanan yang dikelola dengan baik bisa mempertahankan kualitas produk sampai 6 bulan. Penyimpanan produk ini tentu tidak gratis. Petani mestilah menyewa space secara wajar.

Sarana publik ini dikelola secara efektif oleh petugas yang digaji pemerintah secara profesional. Jangan jadikan pegawai negeri, karena dalam jangka panjang pasti memberatkan pemerintah. Sarana itu pada awalnya mungkin merupakan cost-center. Namun setidaknya setelah 3 tahun, dari imbalan jasa yang diperoleh diperkirakan akan mampu mandiri dan menjadi profit-center.

Turut pengalaman Uwan, petani pasti mampu menyewa sesuai kebutuhannya.***

kembali ke halaman utama