Irzal Bujang (bukan nama sebenarnya) adalah rekan petani muda
sejawat Uwan dari Ampek Angkek yang benar-benar tipikal petani andalan.
Ia pekerja keras, tercermin dari badannya yang kekar. Kulitnyapun hitam
karena mungkin setiap hari tersengat matahari. Ia tergolong mangsa pembangunan
berbasis revolusi hijau, karena pola bertani sentralistik selama ini telah
membuat dia akrab dengan berbagai produk pestisida yang disebutnya sebagai
racun.
Dalam bertanam lado (cabai merah) ia mengalokasikan lebih 40 % dari
permodalan yang dimilikinya untuk membeli racun. Demikian pula produk hortikultura
lainnya, tak kurang dari persentase itu yang harus dibelanjakan untuk membeli
pestisida.
Perkenalan Uwan dengannya terjadi tahun lalu. Sambil menyiangi kebunnya,
kami berbincang tentang sulitnya hidup bertani saat itu. Segalanya mahal,
sarana produksi melambung sampai 400 % dan tak kurang harga yang terbanting
kalau over produksi. Pembicaraan menghangat tentang ada pendekatan baru
dalam bertani, yakni menggantikan peran pupuk dan pestisida dengan bahan
alami yang dapat dibuat sendiri. Dengan demikian ongkos produksi dapat
ditekan ketitik sangat rendah, hanya sekitar 20 % dari sebelumnya.
Seketika wajah Bujang menegang, matanya menyala-nyala karena mendapat
jalan keluar dalam meneruskan karirnya bertani. Ia mencecar Uwan dengan
berbagai pertanyaan, karena ia haus akan informasi itu. Siang itu, transformasi
ide berlangsung alamiah. Bujang merasa tercerahkan.
Selanjutnya ia memutuskan ikut kelompok tani sekampungnya menjadi peserta
sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT). Penerapan teknologi bertani
ini pada dasarnya hanya kembali ke keselarasan alam, sambil mengendalikan
pertumbuhan hama. Bila serangan hama datang, maka dikendalikan dengan pestisida
alami, yang diistilahkan dalam pelatihan sebagai agens hayati. Berjenis
agens hayati telah ditemukan untuk berbagai tanaman hortikultura yang biasa
ditanam oleh kaum petani dikampungnya.
Bersama kelompoknya, ia belajar serius. Ada satu putaran masa tanam
untuk berbagai macam komoditi dijadikan bahan pelatihan. Pelatihan benar-benar
di lapangan, walau tetap ada sistem kelasnya. Pelatihnyapun tak sama seperti
berbagai pelatihan yang dulu-dulu pernah diikutinya, pelatih kini hanya
mengalirkan pikiran-pikiran buah pengalaman peserta. Pelatih hanya memformulasi
kesimpulan dari peserta. Hasilnya mutlak merupakan kontribusi pengalaman
petani peserta.
Untuk pupukpun ternyata cukup dibuat sendiri. Bahannya dapat berupa
jerami atau limbah pertanian lainnya dengan ditambah pupuk kandang dan
campurkan sedikit agens hayati. Dapatlah pupuk pengganti pupuk kimia sintetis
yang biasa diaplikasikannya sejak dulu.
Ia mantap dengan pengetahuan barunya itu. Bersama kelompoknya dia mendirikan
pos IPAH (Informasi Pelayanan Agen Hayati) untuk menyebarluaskan pengetahuannya
dan mengajak seluruh pihak agar mengembangkan keterampilan yang sama. Pelatihan
demi pelatihan diorganisirnya sambil mengamati perkembangan pertanian
dikampungnya.
Untuk dirinya sendiri, dilahan sekitar setengah hektar dia bertanam
cabai merah. Sebagai modal kerja dia meminjam KUT yang disalurkan lewat
kelompok taninya. Kalau tak salah ia memperoleh kredit sebanyak 6.750.000
rupiah, sesuai standar masa tanam untuk lahan setengah hektar.
Sambil menunggu pupuk dari bahan jerami matang, ia mempersiapkan lahannya
sendirian. Mestinya sambil bersiul-siul kecil. Dibelakang rumahnya, ia
telah mempersiapkan 5 jenis agens hayati yang kelak akan dipakainya untuk
melawan serangan hama yang pasti bakal menyerang. Dua diantaranya sejenis
cendawan.
Penanaman dan penggarapan berikutpun selalu dikerjakannya sendiri. Kata
fasilitatornya di SLPHT, pola bertani jenis ini sangat tergantung pada
pengamatan lapangan. Untuk itu hampir sepanjang hari dia bekerja di kebun.
Setelah subuh berkaum-kaum di mesjid dekat rumahnya, ia sudah meluncur
ke kebun. Pulang ke rumah sebentar, lalu kembali. Shalat Dzuhur dan makan
siang praktis hanya 1 jam saja. Tak ada istirahat lain, lagipula ia memang
tak biasa tidur siang. Pengamatannya yang seksama membuahkan hasil efektif
dan dicatatnya dengan cermat. Tanamannya berhasil gemilang.
Sesuai rencana, dua minggu menjelang puasa ia mulai panen raya, yang
berketerusan sampai menjelang lebaran haji. Harga sangat baik diperolehnya
karena puncak pasar untuk lado di Sumatera Barat adalah periode itu. Hasil
bersih setelah potong KUT nilainya mencapai jutaan rupiah.
Evaluasinya, dengan membuat segalanya sendiri, dia hanya mengalokasikan
dana KUT hanya Rp.1.600.000.- saja, atau 23,7 % dari jumlah pinjaman. Kemudian
dengan rendahnya biaya produksi ini, ditambah keuntungan berlipat karena
panen dipuncak kebutuhan pembeli akan cabai, maka dari pembukuan Bujang
tertera angka penghasilan bersih 11,6 juta rupiah. Sebuah angka yang
belum pernah dicapainya selama bertani.
Bujang terus bersiul-siul kecil tiap pagi menyusuri pematang menuju
kebunnya. Hari itu kepalanya tegak, matanya makin menyala. Masa depan dihadapinya
dengan muka berseri-seri, penuh harapan.
Fenomena Bujang mestilah menginspirasi sejawatnya, dimanapun bertani.
SLPHT, Pos IPAH dan Agens Hayati seyogyanya bertaburan ke seluruh
pelosok nagari di Sumatra Barat. Mengantisipasi globalisasi dimana trend
konsumen dunia yang menghendaki produk hortikultura bebas pestisida (environmental
friendly product), Bujang sudah pada jalur yang tepat.
Tinggal lagi, kita perlu menghadirkan bujang-bujang lain mempelopori
pola bertani sehat selaras alam ini.
Siul Bujang meninggi mendayu-dayu terdengar dari lahan garapannya,
menirukan lagu dangdut lama kegemarannya – Wajah di Balik Kaca.***
kembali ke halaman utama