Home | Curriculum Vitae | Kolom | Makalah | Esai | Artikel | Homepage Pertanian |





Gerakan Desa Semilyar

Uwan diundang Forum Nasional Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) untuk berbicara tentang Demokrasi Masyarakat Desa di Tenggarong – Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur. Pada siang 19 Juni 2001 itu Uwan mempresentasikan perlunya berbagai skenario pengembangan demokrasi berbasis pedesaan berkaitan dengan penerapan otonomi daerah. Satu diantaranya fenomena Sumbar yang mencoba mewujudkannya melalui program kembali ke sistem pemerintahan Nagari.

Sudah lama Uwan tak ke Kutai. Terakhir kalau tak salah 1995 yang lalu. Banyak sekali perubahan terlihat disana sini. Kota Tenggarong sibuk berdandan apik mempersolek dirinya. Pinggir sungai ditata indah dengan taman bunga dan pepohonan peneduh. Gedung-gedung megah bertaburan dimana-mana. Malam penuh warna warni lelampuan dari berbagai penjuru. Selain jembatan Mahakam II yang kekar dan menyolok dilihat dari kejauhan, pulau Kumala di depan kantor kabupaten juga sedang giat-giatnya dibangun.

Mereka berambisi untuk membangun obyek wisata sejenis Ancol di pulau ini. Di sektor wisata ini juga tengah dikonstruksi obyek wisata keraton Kesultanan Kutai Kartanegara serta planetarium untuk wisata ilmu pengetahuan.
Semua itu berangkat dari visi dan misi Bupati Kutai DR. H. Syaukani HR, SE. MSc. yang diketengahkannya waktu mencalonkan diri 1999 lalu. Ia menamai konsepnya dengan “Gerbang Dayaku”, yang artinya kira-kira Gerakan Pengembangan Pemberdayaan Kutai. Dasar filosofi pembangunan yang berakar pada pemberdayaan masyarakat ini intinya menyeimbangkan pembangunan wilayah pedesaan, perkotaan dan sumberdaya manusia.

Untuk itu ia mencanangkan tiga program pokok, yakni (1) Gerbang perkotaan dengan pengembangan Tenggarong sebagai Kota Tujuan Wisata. Wujud fisiknya mulai tampak dengan pembenahan dan pembangunan sarana prasarana. (2) Gerbang Kualitas SDM atau disebut gerakan subsidi pendidikan untuk menumbuhkan kemandirian dalam bidang Iptek dan Keterampilan. (3) Gerbang Wilayah Pedesaan yang dititik beratkan ke sektor agribisnis (pertanian pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan). Program unggulan ketiga ini disebut Gerakan Desa Semilyar.

 Gerakan desa semilyar adalah program unggulan pengembangan wilayah pedesaan melalui kebijakan perimbangan alokasi dana pembangunan sebesar minimal satu desa satu milyar pertahun. Bukan dana segar, namun dana program pemberdayaan untuk ekonomi rakyat, pengembangan sarana prasarana dan peningkatan kualitas SDM. Khusus untuk mekanisasi pertanian akan dialokasikan membeli 3000 traktor tangan.

Hal ini didasari oleh kurangnya perhatian untuk pembangunan pedesaan karena selama ini yang dibangun justru perkotaan, khususnya pulau Jawa. Padahal sebagian besar dananya datang dari pedesaan dan pedalaman luar Jawa.
Bupati menyebutnya arus balik retorika  pembangunan dari sentralisasi ke de-sentralisasi. Dari top-down per-sektor ke bottom-up per-wilayah. Tujuannya agar terjadi pemerataan pembangunan ke pedesaan yang kelak akan menghadirkan desa-desa mandiri dan swasembada.

Gerakan desa semilyar nampaknya cukup muluk namun masuk akal karena dana pembangunan Kutai Kartanegara cukup besar. Kalau tak salah hampir 2 trilyun,sehingga tak sulit mengalokasikan itu ke hanya 168 desa saja. Untuk itu Bupati merubah penampilan dan kinerja birokratnya, karena dalam penerapan konsep ini birokrat hanya akan berperan sebagai fasilitator penggerak pembangunan saja. Merubah kinerja merupakan hal yang sulit seperti diakui Bupati sendiri. Namun nampaknya kedepan, tak ada pilihan selain harus mengikuti perubahan.

Dalam menggerakkan pembangunan pedesaan ini, para birokrat tidak saja sekedar berfungsi memfasilitasi aktifitas ekonomi masyarakat, mereka juga harus menggali dan mengembangkan kemampuan kewirausahaannya. Kemampuan wirausaha bagi kepentingan orang banyak ini (public service entrepreneurship) mutlak dibutuhkan agar mampu mengembangkan berbagai terobosan mengatasi persaingan dengan pelaku ekonomi lainnya.

Menurut Uwan ide ini tampaknya akan gagal kalau Bupati hanya mengandalkan aparatnya belaka. Perlu pelibatan pihak-pihak lain yang memiliki pengalaman, komitmen dan visi pengembangan ekonomi pedesaan. Uang banyak belum menjamin keberhasilan. Bisa-bisa uang habis, aparat menjadi kaya sepihak dan desa-desa akan tetap tergantung pada kota dan pemerintah. Seperti semula.

Pembangunan pedesaan perlu melibatkan masyarakat secara efektif; perlu membangun skenario pengembangan berbasis partisipasi masyarakat; perlu dukungan infrastruktur ekonomi yang tangguh dan memihak kepada kepentingan orang banyak; serta paling perlu fasilitator bervisi global yang terampil mengelola program itu. Sayang sekali, fasilitator berkualifikasi itu sangat terbatas jumlahnya.***

kembali ke halaman utama