HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Efisiensi di IBM

Yossi teman masa kecil Uwan  waktu di Simpang Anam, telah berkarir efektif di IBM Jakarta lebih dari 20 tahun. Banyak menjalani training dalam dan luar negeri serta bepergian ke mana-mana di dunia. Namun akhir-akhir ini terdengar ia banyak menghabiskan waktu dirumah dan tidak lagi pakai seragam putih biru. Banyak waktu untuk keluarga dan tentu bisa intensif mengelola perkembangan pendidikan Jovan, putra tunggalnya.

Mulanya Uwan mengira ia mengambil pensiun muda seperti yang banyak diberlakukan kepada para staf di berbagai perusahaan besar sebagai antisipasi dampak krisis ekonomi. Golden shack-hands banyak dipilih para eksekutif yang bekerja di perusahaan asing waktu itu, dengan perhitungan akan ada cadangan deposito sekalian berupaya mencari pekerjaan baru. Mumpung masih muda.

Tapi tidak. Ia masih staf IBM. Hanya saja ia tak lagi rutin masuk kantor. Rupanya IBM memberlakukan kebijakan baru dalam meningkatkan produktifitas. Terinspirasi dengan gaya kerja yang dikembangkan oleh Bill Gates melalui grup Microsoft, banyak perusahaan Amerika yang mengadaptasinya menjadi budaya kerja baru perusahaan, termasuk mungkin IBM. Yang penting produktif dan menghasilkan keuntungan.

Turut yang Uwan baca di Internet, di Microsoft tidak diberlakukan jam kantor rutin, berpakaian boleh hanya celana jeans dan kaos oblong. Bersandal jepitpun – seperti yang Uwan terapkan sehari-hari di Koperasi Ekuator – tentu tidak dilarang. Staf boleh kerja sampai pagi, boleh pula tak kerja berhari-hari. Yang penting menurut Bill, target produksi tercapai dan meraih prestasi.

Kata Yossi, sejak tahun 2000, 50 % staf pemasaran tidak diberi ruang kerja lagi dikantor. Mereka boleh saja berkeliaran diluar namun dibekali laptop dan hand-phone (diistilahkan mobile marketing). Bila diperlukan dapat ditelpon kapan saja, dan bila perlu dokumen atau laporan, cukup dikirim lewat e-mail. Pulsa memang ditanggung IBM. Undangan rapat staf lewat jaringan elektronik, tak perlu hard copy dan diantar kurir. Budaya paper-less mungkin sudah sejak dulu karena IBM memang dikenal sebagai perusahaan pionir komputer. Istilah lain lagi adalah friendly marketing, dimana staf pemasaran hadir serba santai dan tidak formal. Lupakan jas dan blazer, tanggalkan dasi. Cukup berpenampilan casual saja.

Bagi staf diluar pemasaran, jam kantorpun fleksibel. Boleh mulai pagi-pagi sekali, namun tak dilarang untuk masuk siang. Mungkin banyak yang masuk siang, untuk menghindari kemacetan dan kebijakan three in one kawasan Sudirman. Yang penting total jam kerja 40 jam perminggu terpenuhi. Disamping itu, tentu saja mesin check-clock sudah dipensiunkan dini ke gudang.
Akibat kebijakan efisiensi itu, IBM sejak tahun 2000 hanya tinggal menyewa dua  setengah lantai saja dari sebelumnya empat lantai Landmark Building.

Tak perlu banyak kertas karena sedang menuju paper-less mechanism, tak banyak stationary, filing cabinet terbatas serta hemat peralatan administratif. Office lay-out kantor IBM pun berubah total. Tak ada ruang khusus, semua open space. Sekat ruang antar pimpinan dan staf dihilangkan, semua sama rata sama rasa. Berkat penghematan disana sini, biaya operasional hemat 25 %. Angkanya kalau dalam rupiah, tentu milyaran.

Dapat dibayangkan, kalau kelak sudah paper-less total dan tele-working penuh, Uwan memperkirakan efisiensi akan mencapai hasil 75 %. Office space mungkin perlu hanya satu lantai, itupun akan didominasi oleh ruang rapat. Besar dan kecil sesuai kebutuhan.

Mencengangkan, walau trend global sudah demikian, di Sumbar Uwan menemukan fenomena sebaliknya. Keseragaman, kedisiplinan dan keteraturan justru makin mengencang. Di birokrasi, pakaian seragamnya setidaknya ada dua sampai tiga macam. Ketiganya wajib dikenakan sesuai peruntukan. Di Unand Uwan mendengar, mahasiswa tak boleh kuliah kalau pakai kaos. Sudah pasti tak diijinkan memakai sandal jepit murah meriah. Prestasi belajar nampaknya diukur dari ketertiban dan serba teratur. Di perguruan tinggi swasta katanya harus pakai seragam untuk bisa ikut ujian semester. Kalangan eksekutif merasa percaya diri kalau berdasi kemana-mana, mendampingi krang-kring telepon genggam.

Di era informasi, yang ditandai dengan cepat dan makin cepatnya interaksi, membuat berbagai pernik-pernik malah bisa menghambat kreatifitas. Apa salahnya memakai jeans, kaos dan sandal jepit kalau mampu menghasilkan IP mendekati 4. Apa salahnya birokrasi tidak berseragam kalau akan meningkatkan produktifitas pelayanan publik. Apa salahnya pergi ujian dengan pakaian informal, kalau akan menghadirkan nilai tinggi. Apa salahnya eksekutif muda berpakaian casual, kalau negosiasi bisnisnya menghasilkan milyaran. Ah, kualitas dan produktifitas nampaknya belum jadi ukuran di propinsi ini. Ampun.***

kembali ke halaman utama