HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Efisiensi di Piru

Proyek studi hasil hutan non kayu (non timber forest product) mengharuskan Uwan berkunjung ke Piru, desa pantai yang indah di kecamatan Seram Barat. Maluku, juli 93, sedang berangin dan lautnya berarus cukup deras sehingga perlu hati-hati menyeberang dari Ambon ke Seram.

Bersama Krist, tokoh pencinta alam Unpatti, Uwan mengalokasikan 2 minggu berkelana ke seantero kecamatan Seram Barat. Kami menginventarisasi potensi hutan non-kayu serta kemungkinan pengembangannya. Ikut proyek yang dibiayai internasional ini, disamping untuk nafkah adalah juga sebagai keprihatinan terhadap laju kerusakan hutan tropis Indonesia. Nafkah Uwan kali ini bervaluta guilders.

Desa Piru sebelah barat kecamatan memiliki potensi  kayu putih yang sangat potensial. Sejauh-jauh mata memandang, dari ketinggian kearah pantai seluruhnya ditumbuhi pohon jenis ini. Dulunya hutan kayu putih, namun katanya sekali waktu pernah terjadi kebakaran yang cukup lama. Sehingga yang ada tinggal perdu dan semak kayu putih.

Bagi petani disana, perdu ini dijadikan bahan baku untuk disuling (destilasi) menjadi minyak kayu putih. Produk sulingan ini menjadi salah satu produk unggul dari Seram dan Maluku pada umumnya. Selain Seram, pulau Buru juga penghasil minyak yang sama. Karena cukup sering ke Maluku, oleh para kolega dan famili Uwan selalu ditagih oleh-oleh minyak kayu putih. Harganya cukup mahal, walau kemasannya terkesan masih kurang atraktif.

Petani menyuling dengan peralatan tradisional, sangat sederhana. Satu drum bekas dijadikan bak pemasak, dimana daun-daun akan diisikan sampai penuh untuk direbus. Drum ditenggerkan diatas tungku tanah liat berbahan bakar kayu. Kedalam drum dicampurkan air secukupnya. Bagian atas drum dibuatkan pipa untuk menyalurkan uap hasil pemasakan, yang bermuara ke satu wadah. Sebelum sampai ke wadah, pipa ini melewati pendingin dari air yang disirkulasi yang menyebabkan terjadi pengembunan. Cairan hasil pengembunan ditampung dalam wadah untuk kemudian disalin ke dalam botol. Cairan dalam botol inilah yang kemudian disebut minyak kayu putih.

Hasil yang diperoleh petani, dikenal sebagai rendemen, umumnya cukup rendah. Hanya sekitar 6 % saja. Untuk proses penyulingan selama 8 jam itu, hanya dihasilkan lebih kurang tiga botol limun saja, atau sekitar 900 ml. Bila dua shift, dihasilkan 1,8 liter. Kurang dari dua liter perhari. Harga setempat waktu itu seingat Uwan hanya Rp. 11.000.- perliter. Dengan demikian penghasilan kotor prtani kurang dari Rp. 20.000.-. Itupun harus dibagi dua.

Dalam logika rekayasa, Uwan melihat poses destilasi berlangsung tidak maksimum. Buktinya waktu menampung hasil akhir, Uwan masih melihat banyak uap yang keluar. Artinya tidak sempurna diembunkan. Mestinya hasil yang diperoleh harus lebih banyak, kalau inefisiensi proses penyulingan diatasi.

Setelah bersilaturrahmi dan berkenalan mendalam karena kami menumpang tidur dipondoknya, didapatlah kesediaan untuk berdiskusi secara berkelompok. Pak Tua itu, yang Uwan sudah lupa namanya, mengumpulkan 16 petani produsen kayu putih yang seluruhnya warga Piru. Uwan menekankan perlunya disempurnakan peralatan suling dan selanjutnya paska produksi, yakni kalau bisa pemasaran ditangani langsung.

Disepakati untuk menyempunakan peralatan, yakni mengatasi kebocoran tungku tanah liat agar energi maksimal untuk pemanasan. Bila ini dicapai maka pemakaian kayu bakar lebih hemat. Demikian pula, Uwan memperpanjang tabung pendingin sampai lebih 2 meter ketimbang sebelumnya.

Dua hari kami mencoba desain baru ini dan ditemukan peningkatan rendemen mencapai sekitar 14 % dalam waktu lebih singkat. Cukup 6 jam saja. Artinya, lebih dari 2 liter minyak dihasilkan. Hal lain lagi,  karena efisiensi tungku bakar, konsumsi kayu yang dipakaipun berkurang menjadi sekitar 75 %. Maka kalau 2 shift, produksi mencapai 4 sampai 4,5 liter. Penghasilan petani meningkat tajam, mendekati Rp. 50.000.- perhari.

Program lebih lanjut adalah bagaimana kalau menjualnya langsung ke pasar Ambon, dimana harganya sudah 24 ribu perliter. Anggota kelompok setuju, Krist ditunjuk menjadi agen tunggal pemasar disana. Dengan mengurangi ongkos kirim dan fee untuk Krist, hitungan kami waktu itu hasil bersih petani akan meningkat sedikitnya menjadi Rp. 80.000.- perhari. Dengan memasarkan perkelompok, volume bisnis perminggu melebihi 10 juta rupiah. Bukan angka yang main-main karena Krist akan beroleh fee sejuta seminggu. Sangat layak untuk orang muda seperti dia.

Kejadian Ambon dua tahun terakhir membuat Uwan terenyuh. Uwan kehilangan kontak dengan seluruh kolega disana. Terlebih lagi, Uwan sulit mendapat berita, bagaimana nasibnya perniagaan minyak kayu putih Piru.
Di Sumbar juga ada fenomena serupa. Sebutlah penyulingan minyak nilam atau kalau ada minyak atsiri lainnya. Uwan tidak tahu apakah alat sulingnya sudah sempurna. Yang Uwan tahu, pemasarannya jelas tak memihak petani. Marjin terbesar selalu untuk pengumpul Pasar Gadang atau toke medan. Kenapa tidak disisi pasar ini fasilitas publik diarahkan pemerintah ?***

kembali ke halaman utama