Kawasan Silabu, pantai barat laut pulau Pagai Utara memang indah. Di depan teluk ada pulau Silabu Besar yang menyebabkan selat Silabu tenang bagaikan danau. Arah barat yang berhadapan langsung dengan Lautan Hindia mendapat pengawalan dari hamparan hutan mangrove, seakan menghindarkan pemukiman penduduk dari perkasanya hempasan gelombang samudera Hindia. Teluk ini akan tetap tenang walau terpaan badai angin barat datang melanda.
Dengan luas mendekati 600 hektar, kawasan ini selalu menjadi tempat bersembunyi bagi kapal-kapal nelayan penangkap ikan, menghindari badai. Kunjungan ke Silabu menambah daftar lokasi indah yang pernah Uwan temui. Akan meninggalkan bekas cukup lama, sama seperti kenangan kunjungan lainnya yang sempat didatangi di perjalanan hidup ini.
Penduduk umumnya hidup subsisten, menggantungkan diri pada kemurahan
alam. Sebagian hidup sebagai nelayan, yang lainnya hidup mengandalkan sumber
daya darat kepulauan yang berbasis hasil hutan.
Kawasan ini ideal betul untuk budidaya laut. Alasannya tentu
karena airnya sangat tenang, cukup luas dan dekat dengan mangrove sebagai
sarana pemijahan berbagai hewan laut (nursery ground). Hamparan mangrove
merupakan sumberdaya genetik berbagai hewan pesisir, kaya dengan sumber
makanan karena berrantai ekologis lestari.
Yang perlu dikembangkan pada tahap awal adalah zonasi, yakni menentukan zona pemanfaatan. Hamparan mangrove fungsinya sangat penting sebagai sumber genetik, sehingga perlu dinyatakan sebagai kawasan konservasi lokal dan proteksi penuh. Jangan ada kegiatan apapun di kawasan itu. Zona lain adalah budidaya terumbu karang dan hewan karang sebagai sumber ekonomi berkelanjutan. Produk hewani karang sangat mahal harganya di pasar internasional, tentu karena rasanya yang lezat dan banyak digemari. Sebut ikan karang jenis kerapu, bandeng, baronang serta kepiting, kerang-kerangan berbagai jenis dan udang laut. Serta jangan lupa, produk ikan hias juga cukup potensial untuk berkembang sejalan dengan dinamika budidaya.
Dari internet Uwan memperoleh informasi, beberapa negara di dunia sedang giat mengembangkan budidaya terumbu karang (coral farming), yang konon katanya sangat tinggi nilai ekonominya. Perhitungan kasar saja, kalau 200 hektar kawasan Silabu ditetapkan untuk zona budidaya ini, maka dapat dibayangkan tingginya potensi ekonomi yang dihasilkan kelak.
Zona pemanfaatan lainnya adalah untuk kebutuhan wisata bahari. Ombak
macaronny di depan Silabu sudah dikenal sebagai lokasi bersilancar tingkat
dunia, tinggal penataan interaksi lebih lanjut. Kawasan teluk yang tenang
bagaikan danau tentu efektif untuk ber-kano ria, sea kayaking, sailing,
para sailing. Untuk produk bawah laut, yang perlu dikembangkan adalah penyelaman
rekreasi dan snorkling. Tentu tak ketinggalan wisata pemancingan, mengingat
kepadatan populasi dan jenis ikan sangat tinggi.
Untuk mendukung keberadaan kawasan dan interaksi dengan pihak luar
serta global, dikembangkan pula zona pemanfaatan sebagai fasilitas pendukung.
Bentuknya yang pasti adalah terminal sementara, khusus untuk kebutuhan
kapal-kapal ikan yang menghindari cuaca buruk
Mengingat budidaya sudah demikian canggihnya, produknya sudah sangat standar dan nilai jualnya tinggi sekali di Singapura, maka eksport ikan hidup dan ikan hias mestinya dapat dilakukan melalui udara. Float-flight ( pesawat angkut yang bisa mendarat di air) akan landing secara rutin membawa berbagai kebutuhan produktif Silabu dan burung besi itu akan kepayahan take-off membawa produk Silabu. Dari Silabu take-off menuju global membawa keharuman nama Mentawai. Membawa kegurihan kerapu segar yang dilahap pedas menggunakan sambal lado tumbuak tanak versi instant buatan Bukittinggi.
Ah pembaca, cerita diatas baru sekedar fantasi Uwan setelah mengunjungi Silabu. Tapi bukan tak mungkin menjadi kenyataan. Asal saja kombinasi budidaya bernilai ekonomi tinggi, konservasi kawasan mangrove dan zona wisata bahari diatas mendapat penanganan konstruktif dan berwawasan global. Sinergi produktif pemerintahan Kabupaten Kepulauan Mentawai, pihak investor dan masyarakat setempat nincaya akan mewujudkan fantasi itu.
Pemerintahan Kabupaten tentu perlu secara efektif mengatur pengelolaan pembangunannya, membuat Perda yang konsisten dan nyaman untuk mereka yang berinvestasi. Investor serius pasti tertarik bila ada kepastian hukum yang menjamin keamanan investasinya.
Paralel, masyarakat setempat secara partisipatoris membangun skenario
pengembangan sosial ekonomi mereka yang sinergis dengan pengembangan investasi.
Negosiasi dengan investor yang bertoleransi sangat didambakan. Anak laggai
Silabu dijamin bisa berkarya di halaman kampungnya sendiri. Tentu secara
moderen.