Awal Agustus 1990 itu, Uwan berkelana di Danau Toba. Kami mengerjakan
proyek kawasan pinggiran Danau bagian timur yang posisinya berseberangan
langsung dengan kawasan wisata Parapat. Program berjudul Beyond Parapat
ini sejalan dengan minat pemda Simalungun yang ingin mengembangkan kawasan
wisata baru berbasis masyarakat lokal. Jadi tak mengundang investor dari
manapun.
Intinya adalah menjadikan berbagai dinamika keseharian masyarakat
pinggir danau sebagai produk wisata disamping pemandangannya yang memang
indah. Aktifitas masyarakat mengolah lahan, budaya air, upacara-upacara
adat termasuk situs adat berupa kuburan raja-raja dikemas menjadi atraksi
yang bisa dinikmati pengunjung. Disamping melalui jalan raya, wasatawan
bisa berkunjung lewat air dari embarkasi Parapat maupun pelabuhan
Tomo di Samosir. Koridor wisata dialihkan dari Aek Nauli, Sipolhah, Tambun
Raya, Tanjung Unta, Tiga Ras, terus Haranggaol dan Saribu Dolok keluar
ke Brastagi. Jadi tidak lewat rute lama Sidamanik dan Simarjarunjung.
Untuk itu pemerintah mendukung lewat pembangunan sarana prasarana yang
memadai. Di Sipolhah, masyarakat memugar dan mendandani kuburan raja marga
Damanik. Inisiatif ini tentu mendapat dukungan penuh dari Bupati pribadi,
karena itu kuburan ayah dan kakek serta kakek buyutnya.
Uwan bekerja untuk konsorsium 5 LSM Simalungun, yang memiliki program
eko-ekonomi bagi rakyat lokal pinggir danau, persisnya di Tambun Raya dan
Tanjung Unta. Program yang dibiayai oleh USAID ini berorientasi meningkatkan
ekonomi masyarakat sekaligus berdampak konservasi. Atau melakukan konservasi
yang memperikan keuntungan berlanjut secara ekonomi.
Desa ini memiliki topografi beragam, mayoritas dengan kelerengan yang
tajam, perbukitan terjal dan lembah-lembah yang dalam. Jelas rawan longsor
bila curah hujan tinggi. Kerawanan makin menjadi karena termasuk kawasan
hutan Sibatuloting yang dirambah oleh PT. Inti Indo Rayon Utama untuk
bahan baku produksi pulp dan paper. Sebagai aktifis lingkungan hidup, Uwan
ikut aktif terdepan menentang kehadiran PT IIU.
Kami bekerja dengan masyarakat setelah persiapan sosial mendalam yang
dilakukan oleh praktisi-praktisi muda dari konsorsium. Penyadaran masyarakat
berikut pengorganisasiannya dilakukan sejalan dengan skenario masa depan
bersama, yakni peningkatan ekonomi dengan mereduksi resiko lingkungan.
Penduduk sepakat mengurangi tekanan terhadap lahan dengan mengembangkan
budidaya air. Dibawah pimpinan Timur Saragih, kelompok budidaya ikan berkembang
pesat. Mereka mengembangkan ikan mas dan nila dalam pola jaring apung dan
karamba, yang diikuti dengan restoran terapung. Tahun - tahun berikutnya
mereka sudah punya langganan tetap turis lokal dari Medan yang makan siang
disana.
Kelompok konservasi dipimpin oleh Silalahi yang berumah di puncak Tanjung
Unta. Ia memimpin puluhan anggotanya untuk menghijaukan perbukitan yang
terjal dan kritis dengan membibitkan dan menanam pohon-pohon yang kelak
hanya akan diambil buah serta kayunya. Jenis MPTS (multipurpose trees species)
sekitar 10 macam berjumlah puluhan ribu kemudian tertanam di seantero kawasan.
Mulai dari pohon kemiri, enau, nangka, durian sampai-sampai pohon ingol
(di Sumbar disebut surian).
Ini salah satu success story dalan karir Uwan. Proyek ini sampai mendapat
perpanjangan tiga kali dan telah ditinjau oleh berbagai pihak internasional.
Kejadian hujan lebat berbuntut longsor di beberapa lokasi dalam kota
Padang selasa awal Agustus 2001 lalu mengingatkan Uwan akan aktifitas di
Tanjung Unta. Melihat perkembangannya, tanpa upaya antisipasi sistemik,
longsor demi longsor akan berdatangan terus. Warga kota akan rutin mendengar
musibah, sekian orang meninggal, sekian KK kehilangan tempat tinggal. Selalu
akan ada kunjungan pejabat ke lokasi musibah, ada bantuan dari mana-mana.
Begitulah frekwensinya akan meningkat tahun ketahun seiring perubahan suhu
global.
Menurut hemat Uwan, harus ada penetapan zona yang sama sekali dilarang
untuk pemukiman. Kalau sudah terlanjur, lebih baik dimusyawarahkan untuk
pindah ke lokasi lain yang lebih aman. Perbukitan mulai dari bukit putus,
bukit mata air, bukit lantiak, bukit gado-gado sampai ke Gunung Padang,
setelah penelitan seksama selayaknya dinyatakan minim pemukiman. Jadikan
saja kawasan konservasi berupa hutan kota dengan menanam MPTS yang sesuai
dengan ekosistemnya berkelerengan tinggi itu. Pemilik lahan tetap masyarakat,
tapi dikembangkan menjadi hutan produksi.
Katakanlah sejuta pohon sejenis pala, kemiri, cengkeh dan pohon produktif
lainnya ditanam dengan pola bagi hasil. Uwan ingat masa kanak-kanak dulu,
berombongan pergi ke bukit gado-gado untuk ikut memetik cengkeh dan pala
atau mencuri jambu kaliang dalam suasana yang asri. Monyet-monyet hitam
berperut putih tampak bergelantungan dipohon-pohon besar. Waktu itu, koran
bebas berita longsor.***
kembali ke halaman utama