Bung Johny teman lama saya punya ide cukup menarik. Ia berpendapat bahwa
kita perlu melepaskan diri dari berbagai ketergantungan dengan pihak lain
kalau ingin mandiri. Untuk itu ia mencobakan terlebih dahulu dengan memandirikan
ikan nila dan ikan mas di kolamnya.
Ia mengawali gagasan uniknya dengan membangun kerjasama dengan pemilik
satu lahan terlantar dikawasan Kampung Kelawi seluas 2000 meter yang sebelumnya
merupakan bekas galian pasir. 1000 meter diantaranya telah berupa kolam
genangan. Kerjasama ini berpola win-win solution, artinya lebih kurang
bagi hasil. Galian pasir sedalam antara 1 – 3 meter ini digenangi air yang
merupakan pelimbahan dari sumber sekitar. Tentu saja suplai terbesar mengandalkan
kemurahan alam, yakni air hujan.
Kedalam kolam ini ditaburlah bibit ikan nila dan ikan mas sebanyak 20.000
ekor. Pemilik lahan sekaligus bertindak menjadi pengelola, dibuatkan pondok
tinggalnya dan satu pondok ekstra ditengah kolam. Kedua pondok dihubungkan
dengan jembatan kayu. Disanalah mereka anak beranak menetap dan bekerja
mengelola kolam. Dalam pengelolaan ikan ini, mereka berprinsip :
-
Lepas dulu ikan mas. Bila perkembangannya baik maka itu pasti baik untuk
jenis ikan lainnya. Kolam genangan itu ternyata kondusif untuk ikan mas,
maka ikan nila pasti akan lebih baik.
-
Anti produk pabrik. Memandirikan ikan dengan tidak memberikan makanan
buatan sejenis pelet yang tentunya buatan pabrik. Ikannya disuruh mencari
makan sendiri dari alam. Dua kali sehari hanya diberi dedak yang gampang
diperoleh dari sekitar, karena ada penggilingan padi. Dedak mulanya gratis,
namun belakangan harus beli walau dengan harga sangat murah.
-
Legitimasi sosial. Agar suplai air pelimbahan kawasan persawahan sekitar
tak tercampuri racun yang akan berakibat fatal bagi ikan-ikan, diperlukan
komunikasi timbal balik dengan masyarakat. Untuk itu, dimodalilah julo-julo
yang melibatkan sekurangnya 40 ibu-ibu petani. Saling keterkaitan ini membuahkan
hasil saling menjaga, sehingga belum pernah kejadian ikan mati karena kemasukan
limbah beracun.
-
Pemanenan berkelanjutan (susatainable yield). Mengingat pola genangan demikian
rasanya sulit untuk sering-sering dikuras. Makanya pemanenan direncanakan
hanya dalam bentuk dipancing atau paling banter dijala saja. Ikan yang
sudah cukup besar baru diambil ( 4 ekor perkilo), sedang dibawah ukuran
itu harus dilepas kembali.
-
Pembibitan berkelanjutan. Pembelian bibit tentu cukup sekali saja, karena
menurut pengamatan dalam tiga bulan saja sudah tampak ribuan anak
ikan nila. Artinya kelak tak perlu menabur bibit baru tambahan.
Setelah tiga bulan berjalan, Bung Johny menghitung total investasinya
masih cukup kecil. Semuanya telah dialokasikan untuk beli bibit, perbaikan
kolam, honor mitra kerja 300 ribu perbulannya, beli kayu sibiran untuk
membuat rumah dan pondok tengah kolam, beli dedak dan operasional lainnya.
Ia memperhitungkan sampai bulan depan, bulan ke empat investasi, diperkirakan
baru mendekati angka 5 juta.
Dari segi produksi, akhir bulan april lalu dia secara random menangguk
ikan sekenanya. Kaget juga, rata-rata sudah mencapai 5 ekor perkilonya.
Diperkirakan akhir Mei ini akan mencapai 4 ekor perkilo. Saatnya untuk
memanen perdana.
Kalau satu kilonya dihitung 5 ribu rupiah saja, diperkirakan
akan diperoleh hasil penjualan 25 juta rupiah. Artinya ada marjin 20 juta.
Bila bagi dua dengan pengelola, maka masing-masing memperoleh penghasilan
10 juta rupiah. Dengan pola yang sama, 4 bulan mendatang tentu lebih besar
angka penghasilan berdua, mengingat tak perlu investasi bibit dan perumahan
maupun sarana lainnya.
Bolehlah kita menyebut fenomena ekonomi ini memberikan sustainable income.
Pola sinergi mana patut dipertimbangkan dimasa krisis ekonomi yang tampaknya
belum akan kunjung pulih. Ada berapa banyak lahan terlantar di Kampung
Kelawi, tak terolah karena kurang subur. Tak mungkin dijadikan lahan bertani.
Ditengah tengah membludaknya pengangguran, pola kewirausahaan Bung Johny
perlu dikloning ke tempat-tempat lain yang relevan.***
kembali ke halaman utama