Upaya demi upaya yang kreatif tentu perlu diberi tempat dalam mengemas berbagai produk wisata kota Bukittinggi. Disamping zonasi, dekonsentrasi kota, pengemasan wisata dan bendi wisata yang Uwan usul terdahulu, banyak lagi yang perlu dikembangkan. Pilihan-pilihan produk wisata yang akan ditampilkan, yang pada gilirannya akan sangat mewarnai karakter kota. Soal kita sekarang adalah mirip memilih 100 wisatawan yang hanya membelanjakan 10 dollar perhari atau 10 wisatawan tapi mampu membayar 100 dollar perhari. Pilihan lain lagi yakni hanya 1 wisatawan saja namun akan membelanjakan 1000 dollar perhari.
Impilikasinya adalah pada kualitas produk wisata yang ditawarkan. Turis mampu bayar mahal akan berkunjung kesini bila produk yang dijual berkualitas tinggi dan tidak dijual ditempat lain. Pengembangan produk yang terus menerus dilakukan secara kreatif dan konstruktif berharap menghadirkan kualitas tinggi.
Untuk itu Bukittinggi perlu menciptakan sebuah episentrum “kelas dunia” untuk menjangkau turis berduit dimaksud. Katakanlah Festival Jam Gadang. Wujudnya sebuah pertunjukan tahunan yang dikemas secara canggih dan sangat profesional untuk ditampilkan di plaza dengan latar belakang jam gadang selama satu bulan penuh. Pertunjukan kolosal didukung teknologi mutakhir ini menampilkan berbagai group tradisional budaya Melayu kelas dunia dari berbagai negara (mungkin mengambil tema Sabai Nan Aluih, Malin Deman, Cindua Mato, Anggun Nan Tongga Magek Jabang atau apa lagi ?).
Mendukung festival, untuk kepentingan happening art dikembangkan tradisi
membungkus jam gadang selama sebulan penuh sebelum acara. Atau kalau ingin
lebih spektakuler lagi, meniru David Copperfield, mungkin jam gadang perlu
disulap untuk hilang selama beberapa waktu. Intinya, ada semacam kejutan
psikologis massal dalam mengawali festival.
Para seniman diberi keleluasaan untuk mengembangkan dan mengaktualisasi
proses kreatifnya seminggu sebelum acara, selama acara dan puncaknya pada
akhir festival. Siapa saja diberi ruang untuk berkontribusi menyemarakkan
suasana. Tentu tidak sekedar menampilkan diri dan manfaat budaya belaka,
sedikit banyaknya harus jelas manfaat ekonominya. Penyelenggaraan festival,
bagaimanapun adalah sebuah prosesi budaya, tapi sangat diharapkan berdampak
ekonomi.
Event tersebut dipublikasi jauh-jauh hari melalui berbagai media, cetak maupun elektronik, dukungan internet dan pemasaran melalui travel mart. Tiket pertunjukan dijual di kedutaan dan perwakilan Indonesia seluruh dunia. Secara bertahap dapat diperkirakan, terutama pada puncak festival, ribuan wisatawan bayar mahal akan hadir dengan lama menetap sedikitnya 1 minggu.
Menyemarakkan penyelenggaraan festival Jam Gadang, seluruh anak nagari akan tampil atraktif dengan berbagai pakaian tradisional nagari. Uwan percaya, bila dipersiapkan secara serius, berbagai ragam tekstil yang menjadi ciri khas nagari masing-masing bisa ditampilkan kembali. Apalagi teknologi ragam hias kini makin canggih dan serba komputerisasi. Tak terbayangkan sembari senyum simpul, seluruh penjuru kota penuh mobilitas anak manusia dengan warna warni pakaiannya. Hal mana tentu akan ditiru wisatawan sehingga mereka akan terbawa-bawa pula untuk mengenakan busana tradisional itu.
Menyambut pelaksanaan festival tahunan yang kalendernya ditetapkan secara konsisten, tentu merangsang anak nagari untuk berkreasi membuat berbagai jenis produk yang dapat dijual dalam event tersebut. Katakanlah produk tradisional tekstil atau kerajinan rakyat yang selama ini sudah ada. Namun tak kurang pula akan hadir dan bertumbuh produk-produk kreatif sebagai hasil pengembangan. Katakanlah produk tekstil, mungkin bahan dan motifnya akan berkembang sesuai kemajuan teknologi dan permintaan pasar. Cara pemasaranpun tentu bertumbuh, mungkin berbentuk butik yang moderen lengkap dengan fashion show atau apa saja trend pemasaran madsa kini.
Karena akan berlangsung suatu peristiwa besar dan ribuan orang dari
berbagai penjuru akan berkunjung ke Bukittinggi, dapat dibayangkan besar
dan volume produksi yang harus disiapkan. Ini artinya, ribuan tenaga kerja
pula akan mendapatkan bagian pekerjaan.Mulai dari pekerja kreatif dan desainer
sampai sekedar pengrajin untuk memenuhi target volume produksi.
Milyaran rupiah kelak akan diraih anak nagari dari interaksi
ekonomi dengan para pendatang. Semuanya akan terdistribusi secara proporsional
kepada pemberi jasa dan pedagang besar, menengah dan kecil. Pemda-pun tentu
akan meraup PAD lumayan besar dari berbagai transaksi yang terjadi, tanpa
perlu bersusah payah mengerahkan petugas untuk memungut PBB dan iyuran
recehan lainnya.