HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Berkebun Islami

Disela-sela Seminar Internasional tentang “People – Centered Development” di Chiangmai, Meechai tokoh KB dan Kampanye AIDS Thailand, mengajak Uwan untuk bermalam di kawasan perkebunan pinggir kota. Magrib di Juni 1990 itu, kami hanya perlu satu jam bermobil ke pedesaan tempat kakak sepupunya Langkorn menetap dengan berkebun lengkeng dan leici. Mata pencaharian mereka sekeluarga hanyalah kebun 2 jenis buah itu seluas 2 hektar lebih kurang.

Kami makan malam dengan lahap karena turut selera Uwan, masakan Thailand mirip dengan Padang, banyak bumbu dan ada pedas-pedasnya. Dengan Meechai sebagai penterjemah mengalirlah kisah tentang pahit getir dan kesuksesan berkebun buah. Uwan khidmat menimba pengalaman dari Langkorn sekeluarga, minus anak sulungnya yang sedang berkuliah di Thammasat University.

Menurut Langkorn, dia memulai usaha perkebunannya setelah gagal mengadu nasib berwiraswasta di Bangkok 14 tahun sebelumnya. Bersama 12 orang anggota kelompok tani waktu itu, mereka mengajukan usulan kepada raja Bhumibol untuk boleh mengolah lahan pertanian. Raja Thailand yang seorang insinyur pertanian memiliki kebiasaan berkeliling ketengah-tengah rakyatnya di pedesaan; mendiskusikan rencana bertani; merancang kawasan; membentuk kelembagaan kelompok tani secara partisipatoris; mendirikan sarana pelatihan  yang lengkap dengan produk informasi  dan akhirnya mengupayakan pembiayaannya.

Setelah itu menandatangani penyerahan/ hibah kawasan tersebut kepada kelompok tani bersangkutan. Surat hibah mana sekaligus berfungsi sebagai sertifikat lahan ( katanya raja adalah pemilik seluruh lahan Thailand).
Langkorn bersama kelompok tani menjalani proses sedemikian waktu raja singgah di kawasan mereka berkebun, sampai kini terus eksis sebagai kelompok pekebun. Mereka menanam lengkeng dan leici secara sungguh-sungguh, karena berharap raja sekali waktu mampir dan memberikan penilaian. Disamping itu, mereka berharap dapat umpan balik dari raja dan timnya, khususnya untuk menyempurnakan pengelolaan kebun.

Kami berdiskusi sampai jauh malam. Yang spesifik adalah Langkorn menceritakan betapa petani intensif mendampingi tanaman kebunnya. Khususnya bila cuaca berubah ekstrim, petaninya patut berada ditengah kebun. Saat itu mereka biasa melakukan apa saja, termasuk bercakap-cakap jarak jauh alis saling berteriak. Kadang-kadang mereka membawa tape recorder dan memutar lagu-lagu tradisional Chiangmai. Waktu istirahat kerja-pun disesuaikan dengan kebutuhan pendampingan itu, sehingga jeda sekitar jam 12 00 – 16.00.

Uwan menilai pola ini bernuansa islami. Pagi hari, yakni mirip habis shalat Subuh, petani sudah berada di kebun mendampingi tanamannya menjalani perubahan alam ekstrim pagi menuju siang. Istirahat antara shalat Zuhur dan shalat Asyar. Demikian pula pendampingan sore menuju malam, mirip umat islam menuju kewajiban Magrib. Uwan mengistilahkan pola ini sebagai berkebun islami.

Itulah. Paginya, mungkin masih sekitar jam 04.30, Langkorn membangunkan Uwan dan menyuruh untuk segera shalat Subuh. Hebat, walau tidak islam, mereka sekeluarga sangat toleran dengan kehadiran Uwan. Setelah menyeruput kopi sejenak, Langkorn dan istri langsung turun ke halaman dan menghilang ke tengah rimbunan pepohonan. Belum ada tanda-tanda akan datangnya fajar.

Tampak ia membekali diri dengan gergaji kecil dan gunting ranting. Sederhana sekali. Dari diskusi tadi malam, peran gergaji adalah untuk memotong cabang-cabang liar. Sedangkan gunting digunakan untuk ranting-ranting yang diperkirakan tidak akan produktif. Istirahat siang sampai sekitar jam 4 sore. Mereka segera dikebun lagi sampai matahari lewat terbenam cukup lama. Kalau tak salah sekitar jam 19.30 barulah Langkorn pulang kerumah dan bebersih diri. Demikianlah, ritual keseharian mereka sekeluarga dalam berproduksi.

Menurut pengarahan raja, tanaman perlu didampingi pada saat ekstrim, subuh menuju fajar menyingsing dan sore matahari tenggelam menuju keharibaan malam. Dengan demikian tanaman tidak akan stress dan dampaknya kelak memberikan buah yang banyak.

Terasa berbeda hasilnya. Tanaman lengkeng dan leci di kelompok tani itu, memberikan produksi sangat tinggi. Lengkeng tahun sebelumnya memberikan hasil mendekati satu ton per-batang, sedang panen sebatang leci membuahkan hasil mendekati 750 kilogram.

Dengan 140 batang leci dan 100 batang lengkeng, keluarga Langkorn dapat hidup jauh diatas berkecukupan. Malah mendekati kategori kaya bila dibanding petani Indonesia. Mengikuti pola berkebunnya itu, membuat mereka hanya berlibur satu kali saja dalam setahun, yakni 12 hari di akhir tahun. Tapi liburnya keliling dunia. Pernah sekali tahun-tahun selewat silaturrahmi kami, mereka sekeluarga berlibur ke Indonesia dan mentraktir Uwan 4 hari di Yogya dan Bali.***

kembali ke halaman utama