HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Kita Perlu Orkestra

Minggu sore itu Uwan ber-tuxedo di Berlin. Jerman menjelang pertengahan  Nopember 1993 itu tengah memasuki musim salju. Maha dingin, konon mencapai minus 26 derjat. Tak banyak yang bisa dilakukan, apalagi oleh mereka yang belum terbiasa dengan suhu rendah itu.

Tapi hangat di teras teater kawasan budaya Postdam tempat Uwan akan menonton orkestra. Antrian cukup panjang, namun tertib. Tiketpun sudah dipesankan jauh-jauh hari oleh panitia seminar yang mengundang Uwan. Hari itu Berlin Philharmonic Orchestra menyajikan performance rutin tahunan.

Suasana ruang terasa akrab, penonton antri mengalir. Tertib teratur. Semua pria berjas gelap rapi jali. Penonton wanita berdandan sempurna. Umumnya ber-longdress juga warna gelap eksotis, layaknya penampilan malam. Para penonton mengalir cermat, mencari tempat duduk sesuai tiket masing-masing. Sesekali ditingkahi permintaan maaf kalau menyenggol penonton yang sudah duluan hadir.

Ruang teater memang dirancang dengan akustik nyaris sempurna, sehingga bila penonton di barisan depan bawah terbatuk, terdengar sampai barisan atas belakang ujung. Konon, sesumbar ahli akustik disana, selembar daun yang jatuh akan terdengar ke seluruh penjuru ruangan dengan intensitas sama !

Menunggu penampilan puncak, suasana ruang dipenuhi alunan musik lembut, tidak klasik betul. Tak ada tetamu yang makan dan minum, yang tentu sudah diselesaikan lebih dahulu dirumah. Suasana terkesan magis, yang ada hanyalah gumaman penonton yang berbicara kecil tentang urusan pribadi mereka. Cekikikan halus terdengar disana sini, mungkin lagi pacaran.
Tepat jam 20.00 waktu Berlin yang rasanya tak kurang sedetikpun, layarpun terangkat sempurna. Lebih seratusan pemusik duduk sesuai peran dan fungsinya. Sang dirigen berseri-seri dibawah siraman cahaya lampu kemerahan, membungkuk dalam sebagai tanda perkenalan. Menambahi informasi yang tersaji di leaflet pertunjukan, ada perkenalan sedikit tentang orkestra dan sejarah aktifitasnya yang sudah melebihi seratus tahun.

Demikianlah. Dipandu pembawa acara, mulailah mengalir lagu demi lagu. Menghadirkan suasana masa lalu, suasana klasik waktu lagu itu diciptakan para komponisnya. Hangat, hanyut mendayu-dayu, menggemuruh cepat dan kian cepat, merintih lalu melambat seakan kehabisan suara. Silih berganti. Pendukung orkestra tampak mengeskpresikan kepiawaiannya mengolah alat musiknya sesuai partitur yang terasa serasi dibawah komando isyarat Sang Dirigen.
Tiap satu orkestrasi selesai dipersembahkan, penonton tertib berdiri dan memberikan tepuk tangan gemuruh. Standing ovation ini dilakukan tertibnya setelah penampilan selesai tiap lagu. Memang tak lazim tepuk tangan apapun ditengah penampilan. Penonton mengapresiasi dengan khidmat dan bermartabat, sehingga tak terasa 2 jam berlalu cepat.
Lapang rasanya di dada setelah bubaran. Ada kenyamanan dan penyegaran dihati. Lahir maupun bathin. Malam itu kemudian menjadi kenangan yang cukup lama, yang senantiasa hadir bila Uwan mendengar musik klasik dimana saja.

Makanya, dalam hari-hari perjalanan panjang ke kota-kota dunia, selalu Uwan upayakan malam khusus menikmati alunan orkestra. Mahal tiketnya, tapi jelas berdampak mempertinggi kualitas apresiasi pribadi. Biarlah.
Mungkin ada benarnya, untuk menghadirkan suasana malam yang sehat bergizi dalam menunjang pariwisata. Sudah perlu kiranya Sumbar punya rumah musik berikut orkestra berbasis keandalan SDM setempat. Katakanlah Sumbar Philharmonic Orchestra, yang tampil rutin sekali sebulan. Tanggal penampilan terjadwal final tahunan, tetap hadir walau ada atau tidak banyak penonton.

Sarana yang tepat kiranya di Taman Budaya Padang, Auditorium ASKI di Padang Panjang, revitalisasi gedung Sociteit di Sawah Lunto atau mungkin Convention Hall Bung Hatta di Bukittinggi. Silahkan saja, dengan penyempurnaan akustik yang perlu serius ditangani.

Uwan yakin, bila penampilan orkes musik klasik ini digarap sempurna, mengumpulkan dua ratusan penonton yang “bisa membayar” rasanya tak sulit. Tambahan pula, Uwan dengar dari Prof. Mursal Esten, Direktur ASKI Padang Panjang, Orkes yang didukung para dosen, mahasiswa dan anggota masyarakat siap untuk tampil. Kalau tak salah dengar jumlahnya ada sekitar 70 orang. Ini tentulah sebuah potensi besar. Dengan membangun sinergi ke berbagai pihak, rasanya untuk tampil sekali sebulan, katakanlah dengan overhead 15 juta per-tampilan, optimis acara itu bisa diselenggarakan.

Bila digarap secara profesional memakai event organizer lokal yang berapresiasi global, ditimpali publikasi yang efektif, maka prosesi yang membangkitkan rasa keindahan itu mestilah hadir. Ditengah turbulensi budaya yang salah satunya dicirikan dengan terbiasanya masyarakat melakukan kekerasan akhir-akhir ini, penampilan orkestrasi musik klasik mungkin penawarnya. Setidaknya, berfungsi sebagai pelembut.***

kembali ke halaman utama