Awal 1978 situasi kemahasiswaan tidak menentu di Bandung. Diawali dengan ikrar DM/SM se Indonesia yang menyikapi perkembangan nasional pada 28 oktober 1977, puncaknya pernyataan 16 Januari 78 KM ITB yang intinya tidak lagi mempercayai kepemimpinan nasional. Kejadian itu telah membuat pemerintah berang dan memerintahkan tentara untuk menduduki kampus-kampus. Proses belajar mengajar praktis berhenti. Ratusan tokoh mahasiswa ditangkap, diadili dan dipenjara. Beberapa diantaranya kini menjadi tokoh nasional, baik di kabinet ataupun di parlemen.
Dalam suasana sulit dan terputusnya komunikasi para mahasiswa dengan keluarga, berakibat banyak diantaranya yang kehabisan sangu. Biasanya mendapat kiriman wesel bulanan, kini banyak yang terlambat. Bahkan ada yang terhenti sama sekali. Tiga diantaranya adalah rekan-rekan Uwan asal Sumbar. Azwar dari Bukittinggi, Edison dari Tanah Datar dan Rizal asal Sijunjung kelahiran Sungai Penuh. Ketiganya bukan nama sebenarnya.
Maaf kata, untuk menyambung hidup mereka sudah meminjam kesana kemari. Tapi karena kiri kanan yang mau meminjami lama-lama terbatas juga, mererka akhirnya kehabisan relasi tempat berhutang. Uwan sendiri juga dalam kesulitan serupa, namun relatif masih aman. Di Bandung masih banyak keluarga sekampung di Banuhampu yang bisa dimohonkan pinjaman. Sekurangnya tidak berkeberatan untuk dipergilirkan numpang makan gratis. Lumayan.
Kami berempat berdiskusi membahas bagaimana jalan keluar dari situasi yang cukup pelik ini. Pandang jauh sama dilayangkan, pandang dekat coba ditukikkan. Tapi tak ditemukan argumen yang meyakinkan kami bersama. Maklumlah, hanya sekitar pinjam dan pinjam.
Malam harinya, setelah mengisi perut dengan roti bakar dan teh hangat yang murah meriah di Pasar Simpang Dago, kami terus saja menerawang. Akhirnya Rizal menemukan usul cukup spektakuler. Katanya bila sudah berupaya maksimal, dibatasnya tentu boleh pasrah kepada yang Satu.
Pinjam kepada Tuhan. Mohon kredit dengan janji akan dilunasi kelak setelah selesai kuliah, plus bunganya sepanjang umur. Semua partisipan rapat bernafas lega, karena ada solusi. Setelah shalat istikharah, semua sama-sama mantap. Kami bersepakat untuk tidak membocorkan rencana ini kepada siapapun, karena kalau ketahuan pasti akan malu muka. Namun sekarang, setelah duapuluh tahun lebih, rasanya tidak apa-apa juga diceritakan. Setidaknya untuk diambil hikmahnya.
Idenya, membuat kotak sumbangan mesjid yang akan diletakkan di restoran Padang yang tersebar seantero Bandung. Agar atraktif, dindingnya dibuat dari bahan kaca sehingga tembus pandang yang diskor oleh batangan aluminium type L. Nama mesjid yang terbengkalai pembangunannya dari kampung masing-masing, lengkap dengan alamat nagarinya, dipajang untuk menarik perhatian. Kotak derma diletakkan di meja kasir sehingga kalau ada kembalian uang kecil tentu mudah mengalir ke kotak itu. Kalau tak silap, inilah pionir kotak derma berbahan kaca yang kelak berkembang menjadi mode meraih simpati dermawan.
Waktu itu, dengan pinjaman sepeda motor tetangga mahasiswa asal Malang, kami membagi diri dalam 2 tim. Bergerak keliling Bandung untuk lobby dengan pemilik restoran Padang agar diperbolehkan menitip kotak derma. Diperoleh komitmen dari 17 restoran, namun karena kotak hanya ada 15, dua lagi terpaksa dicadangkan. Masing-masing bertanggung jawab untuk 5 kotak amal. Bertanggung jawab kepada pemilik restoran, masyarakat di kampung dan tentu kepada Tuhan.
Sekali sebulan pengutipan dilakukan, hasilnya dihitung di rumah kontrakan secara pleno. Aspek akuntabilitas dan transparansi dalan hal ini diterapkan penuh. Perolehan dicatat rapi lalu dibagi dua. 50 % untuk dikirim ke kampung dan sisanya, ya itu tadi, untuk belanja bulanan. Nominalnya lumayan banyak. Bisa mengembalikan pinjaman sebelumnya; bayar kontrakan; biaya makan bulanan; keperluan SPP dan foto kopi serta sekali seminggu boleh pula nonton ke bioskop Braga. Azwar akhirnya mengendarai sepeda motor pribadi berkat kredit Tuhan tersebut. Meskipun cuma bekas, tapi sudah layak dibawa melagak ke rumah pacarnya, gadis Tasikmalaya yang kelak jadi istrinya.
Akhirnya semua sukses menyelesaikan kuliah. Azwar sekarang berhasil
menjadi pimpinan puncak PLTU di Jawa Barat. Edison menjadi direksi Bank
Islam di Kualalumpur dan Rizal kini warga negara Australia, menetap di
Sidney.
Kredit mereka ke Tuhan ? Oh tentu saja di bulan-bulan pertama bekerja
itu sudah dilunasi. Bunganya, seperti sudah disepakati akan dibayarkan
sepanjang umur. 1995 lalu, Azwar bikin mesjid senilai 300 juta di kampungnya.
Transfer Rizal dari Sidney 2 kali setahun untuk kampung dan pengelolaan
yatim piatu yang diurus kakak perempuannya. Edison bekerja untuk
fasilitas Bank yang niatnya memberdayakan umat. Alhamdulillah.
kembali ke halaman utama