Sejak 1990 silam Uwan tiba-tiba punya predikat tambahan, sebagai penyelam.
Kisahnya sederhana saja, dalam rangka lobby karena posisi Uwan sebagai
“tungganai” jaringan LSM Lingkungan Hidup se Indonesia, selayaknya mampu
menyelam. Mitra Uwan, khususnya petinggi pemerintahan umumnya punya aktifitas
menyelam, disamping golf atau tenis.
Dengan menyelam pula, Uwan dapat berinteraksi erat sampai-sampai
diikutkan ke mancanegara, kalau tak salah sampai ke 6 negara. Yang menarik
tentu menyelam di great barrier reef di Australia, Palawan di Filipina,
Republik Belize dan kepulauan Karibia di Amerika tengah. Dalam negeri,
sudah barang tentu banyak dive sites diselami, disamping rutin ke kawasan
kepulauan seribu. Yang fenomenal tentu di laut Banda – Maluku; Taman Nasional
Laut Taka Bone Rate yang terkenal karena terumbu karang ketiga terbesar
di dunia, Kapoposang di Sulsel, Bunaken dan sekitarnya di Sulut, Pulau
Menjangan di Bali serta Pulau Banyak di Aceh Barat.
Apa sebetulnya enaknya menyelam. Bukankah berbahaya dan beresiko tinggi.
Bukankah banyak ikan-ikan buas mengintai. Ah, itu kan opini kalangan awam.
Dari kursus di Hilton dulu Uwan mendapat keyakinan, aktifitas menyelam
sangat aman, tentu kalau sesuai prosedur standar yang ditetapkan. Prosedur
itu internasional sifatnya. Demikian juga, fauna laut tropis umumnya tidak
buas karena rantai makanannya tersedia sepanjang tahun. Daging manusia
bukan rantai makanan dimaksud.
Enaknya menyelam sedikitnya : (a) sensasi yang diperoleh waktu berpindah
ke habitat ikan, waktu berangsur turun ke kedalaman; (b) ada perasaan bahwa
kita akan berkunjung ke suatu lokasi yang tidak terbayangkan (berbeda dengan
masuk hutan); (c) kita dihadapkan ke suatu pemandangan yang beraneka warna
lengkap dengan derivatnya. Tentu dengan tekstur yang bervariasi dan ribuan
jenis flora fauna bawah laut yang mempesona. Entahlah, tak mungkin dilukiskan
dengan kata-kata.
Sewaktu pulang ke Padang 1996 silam, hobby ini sempat sebentar diteruskan
dengan menjelajahi pulau-pulau pantai barat Sumbar. Banyak yang indah.
Namun belum berlanjut karena ada prioritas harus memberi nafkah keluarga.
Dari sekian jenis wisata bahari yang akan dikembangkan ini, sebagai
penyelam Uwan melihat wisata selam cukup potensial untuk didahulukan. Kenapa
? (1) Karena identifikasi dive sites sudah cukup lama dilakukan oleh Pusat
Studi Perikanan Universitas Bung Hatta. Pulau-pulau di perairan Sumbar
potensial dijadikan lokasi Wisata Selam; (2) SDM secara pelan-pelan sudah
pula dipunyai, tinggal mencarikan sertifikat dive master untuk boleh menjadi
pemandu selam; (3) Infrastruktur transportasi bisa menggunakan perahu nelayan
yang kebetulan tidak melaut pada waktu-waktu tertentu; (4) Kalangan ulayat
adat pemilik pulau-pulau akan kebagian rejeki dengan mendirikan home-stay/
ecolodge; (5) Pencinta alam dan nelayan muda dapat pula meningkatkan
kemampuan untuk menjadi eco-dive guide. serta (6) Turis yang mau menyelam
biasanya mampu untuk membayar mahal.
Pengembangan SDM kelautan untuk wisata selam ini perlu mendapatkan
perhatian dan dukungan dari semua pihak. Bisa dibayangkan, sedikit sekali
warga negara yang memiliki kesadaran tentang potensi yang dikandung laut
dan mencoba mengekspresikannya dalam bentuk berkelanjutan.
Idealnya, Sumbar paling tidak tahap awal punya 2 sampai 5 sekolah selam
yang menghadirkan ratusan penyelam tiap tahunnya. Mereka akan menjadi insan
bahari yang kelak akan menjadi motor bagi kegiatan wisata bawah air di
Sumbar.
Melihat peluang di sektor wisata bahari inilah, Uwan menilai
pemerintah daerah perlu mencanangkan secara khusus Proyek Pengembangan
Wisata Selam.
Pada berbagai potential dive sites perlu dilakukan inventarisasi dan
pendokumentasian rona awal bawah laut yang selanjutnya akan dikemas menjadi
produk unggulan. Perlu dikemas berbagai foto bawah air
terbaik dan disosialisasikan sebagai bahagian kampanye wisata bahari. Produk
foto bawah air terbaik diterbitkan dalam bentuk buku, website di internet
atau media informasi lainnya. Mirip buku Underwater Indonesia yang ironis
justru diterbitkan oleh penerbit Periplus dari Singapura.
Sebagai eco-tourist, Uwan merindukan produk informasi jenis ini
yang diterbitkan oleh penerbit bangsa sendiri. Kerinduan berkelanjutan
tentu terobati bila berkembang-suburnya wisata bahari yang kelak menjadi
lokomotif pariwisata alam Sumatera Barat. Uwan tentu bisa mendiversifikasi
mata nafkah dengan menjadi eco-dive guide.***
kembali ke halaman utama