Pertengahan 1997 lalu - karena dibawa peruntungan - Uwan mendapatkan
kontrak kerja internasional untuk mengelola suatu pilot proyek yang diuji-cobakan
di 2 kecamatan Kabupaten Solok, tepatnya Lembah Gumanti dan Lembang Jaya.
Mumpung dibayar dollar dari Washington sana ditambah kenaikan kurs, ada
terlebih sedikit dana yang bisa diinvestasikan. Berkat jasa baik kawan
Uwan di Alahan Panjang, Bung Syamsul, dapat pulalah mengganti sebidang
lahan garapan di kawasan Rimbo Tinggi berpemandangan indah.
Terhampar Bukit Barisan, Gunung Talang dihadapan, Danau Diatas membentang
dan ke timur tampak Lembah Gumanti sejauh-jauh pandang dilayangkan. Udara
sejuk mendekati dingin karena 1675 meter dari permukaan laut. Suasana sepi
sehingga cocok untuk kontemplasi. Makan tentulah enak, walau sekedar dengan
goreng ikan asin cabe hijau ditambah telur bulat rebus sedang hangat-hangatnya.
Uwan sebetulnya sekedar mensiliah jariah kebun markisa yang terlantar
lama. Ditambah lagi dengan menggebubunya asap akibat kebakaran hutan, makin
parahlah kondisi kebun waktu itu. Hal yang sama juga dialami oleh kebun-kebun
petani sekitar lainnya. Banyak diantara pekebun meninggalkan sementara
lahannya, karena maklum berkebun diatas bukit sulit mendapatkan sumber
air penyiram. Pekebun menunggu nasib saja, bagaimana jadinya.
Karena baru pertama kali dalam hidupnya punya lahan, walau sedang dilanda
jerebu, Uwan bersemangat tinggi mengolah kebun barunya itu. Tiang-tiang
junjungan markisa diganti hampir total. Kawat yang putus segera dibeli
baru, tali plastik pendukung, mana yang putus disambung kembali. Lahan
disiangi bersih dan hampir tiap ada waktu luang disela-sela tugas konsultasi,
Uwan senantiasa mengurusi kebunnya. Pokoknya dari segi penampilan, kebun
Uwanlah di perbukitan itu yang paling tertata rapi dan bersih.
Datanglah musim hujan dipenghujung tahun, jerebu sirna dan markisa mulai
berdaun untuk selanjutnya berbunga. Pemandangan makin sedap, hijau kemana-mana
memandang ditimpali warna warni khas bunga markisa. Ungu, hijau dan putih
bergelayutan. Pekebun mulai berdatangan satu persatu untuk mengolah kebun
markisanya. Rimbo Tinggi mulai hidup kembali, bersemi ditengah hiruk pikuknya
aktifitas pekebun. Beberapa mulai menginap sehingga malam haripun ada interaksi
budaya dengan Uwan si pendatang baru.
Mengamati perkembangan, Uwan melihat pekebun praktis menunggu bunga
berubah menjadi putik dan berkembang menjadi buah. Dari kulit buah berwarna
ungu ke biru hijau dan akhirnya akan menguning. Pekebun rupanya hanya akan
menunggu. Sekitar dua bulan lagi tentulah bisa mulai memetik dan menjualnya.
Uwan berpikir, kenapa harus menunggu. Logikanya, setelah berputik tentu
perkembangan buah perlu sinar matahari lebih banyak. Untuk itu diambillah
keputusan perlu dilakukan eksperimentasi. Uwan melakukan sosialisasi pikiran
logisnya itu. Namun rupanya tak dapat diterima sebagian besar pekebun,
karena merasa tak perlu dan malah mungkin tak ada gunanya. Buang-buang
tenaga saja.
Walau dianggap sekedar pekebun baru, Uwan tetap dengan idenya. Ia memangkas
kebunnya sampai jumlah daun yang tinggal hanya 20 % saja lagi. Hampir botak
kebun itu dikerjainya. Rekan seprofesinya senyum terkulum dibelakang punggung
Uwan, melecehkan pola pemangkasan itu.
Namun apa yang terjadi ? Karena sinar matahari penuh, tingkat kerontokan
putik rendah sekali. Dalam pengamatan, kerontokan bisa ditekan menjadi
sekitar 10 %, bandingkan dengan cara lama yang mencapai hampir 35 %. Akibat
penyinaran sempurna itu pula, markisa Uwan paling duluan matang dan siap
dipanen. Pemanenan lebih dulu hampir dua setengah minggu dibanding dengan
rekannya yang lain.
Dari segi produksipun, karena kerontokan bisa ditekan, Uwan memperoleh
total panen 38 kardus (setara dengan 19.000 buah segar) dalam 2 minggu
pertama. Dengan pola dibiarkan seperti selama ini, paling-paling hanya
akan diperoleh maksimal 24 kardus saja.
Karena kebun Uwanlah yang paling duluan panen dibanding seluruh kawasan
Rimbo Tinggi, Uwan dapat meletakkan harga jual sangat tinggi, tertinggi
dari yang pernah ada, yakni dipatok 150 rupiah perbuah. Inipun harga di
kebun dimana peralatan paska panen ditanggung oleh toke pembeli. Tentu
berikut transportasi dan upah angkat ke truk. Pemasukan Uwan bersih
Rp. 2.850.000.- .
Ditambah panen akhir sisanya dengan harga penjualan tinggal Rp. 70 perbutir
markisa segar, dikantongilah bersih 3.350.000.- Sebuah angka yang
menakjubkan dan tak pernah sebegitu besar perolehan sebelumnya. Setelah
kejadian itu, petani sejawatnya sekitar mulai pula mempraktekkan pola serupa.
Dari mulut ke mulut, fenomena ini menjalar ke seantero 2 kecamatan.
Terdata ada 5000 hektar lebih kebun markisa di ketinggian kabupaten
Solok. Dampaknya, Uwan dituduh sebenarnya ahli juga di markisa. Padahal
hanya sekedar pendatang baru. Nampaknya petani perlu contoh kongkrit untuk
mengikuti suatu pendekatan bertani. Pola penyuluhan selama ini, lebih banyak
dimulut saja, diragukan keefektifannya.***
kembali ke halaman utama