Akhir Mei 1996 yang berangin itu, Uwan jadinya diperbolehkan ikut
nelayan Jepang pergi memancing ikan ke laut. Atas jaminan dari Kusachi-San,
relasi lama dari LSM PHD (Peace Happiness and Democracy), Uwan diberi tugas
menjadi salah seorang pemancing long-line di kapal itu. Sayang, Uwan sudah
lupa nama kapalnya. Kami berangkat dari pelabuhan Miyazaki, sebuah prefektur
di bagian selatan pulau Kyushu ( sekitar 2 jam perjalanan pesawat dari
Tokyo) .
Bulan Mei merupakan puncak panen, saat mana di perairan selatan Jepang
berlangsung pertemuan arus bersuhu panas dan dingin.
Berbekalkan informasi dari Pusat Pelayanan Nelayan pelabuhan
Miyazaki, diperkirakan ikan tuna sedang bermigrasi pada jalur tertentu.
Dengan memperhitungkan arah angin, gelombang, dan pertimbangan navigasi
lainnya, maka pertemuan akan dicapai pada titik tertentu. Jelas lintang
dan bujurnya.
Malam itu, bersama dengan 24 kapal lainnya, kami berlayar menuju titik
pertemuan/ fishing ground. Dua hari dua malam kapal berpacu dengan kecepatan
penuh. Diperjalanan Uwan tetap saja tumbang. Walau sudah merasa hebat dan
yakin dengan kemampuan fisik, tetap saja muntah-muntah. Bahkan berkali-kali.
Laut Jepang saat itu memang kurang bersahabat.
Namun kapten kapal yang masih sangat muda, Itsuo-San, 22 tahun, tenang-tenang
saja mengomandoi kapalnya. Kapal bertonase 100 gross ton ini stabil mengikuti
ayunan gelombang dan menjaga formasi tetap terhadap kapal rombongan lainnya.
Pada trip melaut kali itu, kapten Itsuo yang baru 3 bulan tamat sekolah
perikanan ini memperlihatkan bahwa ia memang pantas jadi kapten kapal.
Ia tenang memberikan instruksi-instruksi, terkesan tertib dan disiplin.
Rasanya, kalau dilihat dari kecekatan motoriknya, ia pasti memiliki kemampuan
bela diri. Sedikitnya Dan II Karate. Hal ini membuat anak buah yang umumnya
lebih senior patuh dan tunduk kepada perintahnya. Kapten merangkap petugas
markonis, mencatat seluruh fenomena alam yang dialami di perjalanan. Ia
mencatat rapi dalam log- book posisi fishing ground tahunan, haluan, suhu
air, kecepatan angin, dalam air dll.
Semua kapal tujuannya memancing, tapi dua kapal bertindak sebagai kapal
pendukung. Yang besar disebut sebagai floating factory, dimana seluruh
hasil tangkapan harus dikirim ke kapal itu untuk diproses. Kapal pendukung
satunya mengangkut sound system berkapasitas tinggi, kelak akan memutar
lagu-lagu rock dan jenis lagu keras lainnya.
Setelah titik pertemuan didapat, kapal langsung mengambil formasi melingkar
memanjang. Laut menghitam oleh rombongan ikan tuna. Berbasket-basket
makanan ikan ditabur untuk membuat tuna tidak lagi melaju, mereka asyik
memperebutkan makanan itu. Nelayan bekerja, dan bekerja. Siang malam. Rupanya
untuk tidak mengantuk, lagu-lagu rock dan minuman keras disuguhkan terus
menerus. Sekoci hilir mudik mengantarkan hasil tangkapan ke pabrik terapung
untuk diolah.
Hari ketiga, sewaktu bertugas mengantar tangkapan, Uwan diperbolehkan
naik kapal dan melihat pengolahan. Ikan-ikan yang datang dipisahkan berdasarkan
besar kecilnya, disemprot bersih dengan CSW (cooling sea water, campuran
50 : 50 air tawar dan air laut) lalu dipotong-potong secara sistematis.
Hasil pemotongan dibersihkan, masuk ke mesin pemanas dan berakhir di pengalengan.
Ikan yang sudah dikalengkan ini segera di beri label dan disusun rapi dalam
kotak-kardus isi 50 kaleng. Siap eksport katanya. Residu dimasukkan ke
pengering, selanjutnya digiling sampai halus lalu dikarungkan. By product
bernilai ekonomis ini dijadikan bahan tepung ikan untuk kelak membuat pelet.
Nelayan nonstop memancing hampir 6 hari, sampai ada instruksi radio
dari darat agar segera kembali ke pelabuhan. Dari catatan pengiriman tangkapan
ke kapal induk, Kapal Uwan kalau tak silap menyetor 42 ton lebih. Bila
dikalikan dengan harga ikan yang sangat mahal di jepang, perjalanan kali
itu pasti menghasilkan jutaan yen.
Perhitungan bagi hasil rupanya sudah disepakati lebih dahulu. Kapten
mendapat 10 %; 3 orang pemancing haluan mendapat 15 %; pemancing lainnya,
operasional dan chief engine 35 %; sedangkan untuk pemilik dan ABK
tetap sebanyak 40 %.
Tiba di Miyazaki kembali dengan selamat, setelah 10 hari total perjalanan.
Selang 4 jam saja, setelah pergantian ABK dan seluruh kru, rombongan kapal
putar haluan kembali kelaut. Mengejar tuna ke perlintasan berikutnya. Sayonara.
Dalam mengembangkan aktifitas kelautan sebagai sumber ekonomi masyarakat
Sumbar, perlu dicontoh keunggulan fasilitas nelayan Jepang. Hemat Uwan,
apapun kendalanya, resort nelayan kita wajib memiliki pusat pelayanan informasi.
Strategis betul fungsinya bila dilengkapi peralatan canggih memonitor perlintasan
ikan tuna. Tentu tak lagi melaut individual, haruslah berkelompok. Dibutuhkan
teknologi tangkap moderen, perlu dukungan sumber daya. Bersinergi kata
orang masa kini.***
kembali ke halaman utama