Mengemas Wisata Bukittinggi

Disamping penetapan peruntukan, koordinasi dan sinkronisasi pemanfaatan wilayah, zonasi juga berimplikasi pada penataan berbagai aktifitas kota seperti transportasi dan pengembangan pusat pertumbuhan aktifitas yang baru. Dari segi transportasi, sebenarnya perlu dilakukan upaya serius mengurangi kepadatan lalu lintas.

Untuk ini Uwan punya usul. Bagaimana kalau kita menghidupkan kembali jalur kereta api Batagak – pusat kota sampai ke Baso untuk berfungsi sebagai kereta wisata yang membelah kota Bukittinggi. Bila cermat perencanaannya, kereta kuno dan lambat jalannya ini dapat digratiskan sehingga betul-betul menjadi ciri khas Bukittinggi.

Dengan demikian akan banyak pengunjung yang mengawali perjalanan wisatanya dari Batagak atau dari Baso kalau datang dari arah timur. Artinya kawasan Batagak dapat dikembangkan menjadi terminal antar kota kearah selatan sekaligus kantong parkir pengunjung kota Bukittinggi yang menggunakan kendaraan umum dan bis-bis besar. Hal yang sama menjadikan Baso sebagai terminal antar kota untuk arah utara dan timur.

Disamping mengefektifkan jalur pedestrian/ jalan kaki dari pusat kota ke Koto Gadang melalui Ngarai Sianok, mengingat tahun 2002 nanti Sumbar akan surplus energi sekitar 240 MW pada beban puncak, tak salah bila direncanakan untuk mengembangkan sejenis kereta gantung/ skylift antara kawasan Jam Gadang menuju Koto Gadang, sehingga para turis yang akan menginap dan berbelanja di Koto Gadang dapat menggunakan sarana ini pulang pergi. Skylift dapat dibangun untuk sekaligus menyusuri Ngarai Sianok kehulu ataupun kehilirnya.

Terminal skylift dapat dibuat di beberapa tempat, mungkin di Guguk ataupun kawasan Panorama Baru. Bisa dibayangkan para turis menikmati ngarai sampai ke dasarnya, bergerak diselang seling hutan alam bawah ngarai. Secara bertahap, skylift dapat diarahkan sampai ke Palupuh untuk menonton keunikan bunga raflesia. Mungkin pula rute lain, Jam Gadang menuju Ngalau Kamang, transit di Kapau untuk menikmati makan siang nasi kapau.

Simultan dengan penataan transportasi, kita perlu mengemas kawasan aktifitas wisata secara efektif, antara lain mengembangkan kembali areal yang dulu cukup dikenal, misalnya Ngalau Kamang – gua indah bersiram cahaya pantulan stalaktit stalakmit (lengkap dengan perkebunan durian Kamang yang lezat).

Pinggang Gunung Singgalang untuk perkebunan murbei sebagai penghasil ulat bagi industri sutera dan pinggang Gunung Merapi untuk perkebunan kopi Arabica serta permandian air panas desa Aie Angek di wilayah Tanah Datar. Jadi pinggang kedua gunung terselendangi tanaman produktif kopi dan murbei, mulai dari batas register hutan di ketinggian sampai pinggiran pemukiman komunal.

Dengan perencanaan matang, dibangun jalur agrowisata menyusuri pinggang Merapi dan Singgalang, lengkap dengan rest area dan rumah kebun tertata selaras kontur. Jalur Singgalang dimulai dari kawasan lubuk mata kucing di kota Padang Panjang, menyisiri pinggang gunung menuju Padai Sikek dan X Koto, sampai di ketinggian ulayat Sungai Tanang dan berakhir di Balingka. Jalur Merapi dimulai dari Batipuh menuju Aie Angek, menyisiri ketinggian Sariak Batu Palano – Sungai Puar – Candung dan berakhir di Baso. Sarana rekreasi sehat tentu dapat pula dibangun di jalur ini, misalnya restoran; tempat bermain anak-anak; kolam renang air panas di Aie Angek; outdoor-sport; dll.

Agrowisata juga akan mencengangkan hasilnya bila Bukittinggi mampu pula menghadirkan butterfly garden (taman kupu-kupu) dan industri bunga potong bila agroklimatnya memang cocok. Bayangkan, Singapura yang tidak memiliki ekosistem relevan saja punya taman kupu-kupu dan perlu beberapa puluh dollar Singapura untuk membayar entrance fee.
Berkaitan dengan pengadaan sarana akomodasi, masyarakat dirangsang untuk membangun ecolodge (rumah penginapan selaras alam) di titik-titik strategis tertentu mendukung dekonsentrasi pusat kota, misalnya di jalur agrowisata lereng gunung Merapi dan Singgalang; di kawasan gua alam Kamang; di Panorama Baru dan Koto Gadang.

Mengembangkan kebun kota skala ekonomis terbatas (small estate) di ruang terbuka yang masih belum produktif. Kawasan utara kota membentang dari panorama baru ke arah Palupuh dapat dikembangkan sebagai sentra kebun buah-buahan produktif dan kayu eksotis yang penanamannya ditata sedemikian rupa. Disamping untuk diambil produksinya, proses berkebun tentu dapat dijual sebagai obyek wisata (mirip kebun buah Mekarsari di Jawa Barat). Berjenis-jenis jeruk, durian unggulan, kopi, alpukat, dan tanaman buah dataran tinggi lainnya adalah pesona tujuan wisata ini.

Banyak yang bisa diusulkan untuk mendukung zonasi dalam pengemasan Bukittinggi sebagai kota wisata berkualitas. Untuk itu perlu mengundang partisipasi suatu tim konsultan berkualitas mendukung upaya itu. Tak mungkin mengandalkan sekedar aparat perencana level kota saja. Apalagi aparat yang tak memiliki wawasan global.
 
kembali ke halaman utama