Pertengahan 1997 yang sedang berangin itu, tiga hari Uwan ikut tim Bitra
mengunjungi desa Sayumsabah, Kecamatan Sibolangit – Kabupaten Deli Serdang.
Perjalanan ke desa selalu disiapkan kawan-kawan bila mendengar Uwan mau
ke Medan. Entah kenapa, pikiran-pikiran lepas di perjalanan selalu dapat
mereka kembangkan menjadi program lembaga. Mungkin ide-ide efektif yang
terbangun selama perjalanan, didukung aura alam membuat rombongan menjadi
kreatif-konstruktif.
Desa ini cukup subur, topografinya naik-turun bergelombang, dibelah
oleh Lau Petani (Lau maksudnya sungai), dimana mayoritas masyarakat menggantungkan
hidupnya dengan mengolah lahan. Kehidupan mereka tentu subsisten, mengandalkan
kemurahan alam dan sedikit kemampuan bertani. Desa ini sebenarnya dekat
dengan Medan, namun seakan tidak tersentuh kemajuan pembangunan. Indikasinya
hampir seluruh kebutuhan domestik seperti MCK selalu diarahkan ke sungai.
Melalui metodologi PRA (partisipatory rural appraisal) kami bersama
rakyat mencoba memetakan potensi desa serta menyusun skenario pembangunan.
Meluncurlah konsep membangun kebun campur (polikultur) dengan mengenalkan
tanaman utama coklat mendampingi tanaman yang sudah ada sejenis kemiri,
petai, durian, sawo, enau dan pohon ingol. Disamping itu untuk memperkaya
pilihan aktifitas, penduduk tercerahkan bahwa sungai juga mempunyai manfaat
ekonomi.
Didampingi Komintasari, sarjana pertanian yang berdedikasi tinggi sebagai
TPL wanita Bitra, mereka membangun kebun campur dimana bibit coklat diintroduksi
efektif. Bibit dibeli dengan kredit bunga murah melalui Bitra, dimana areal
pembibitan sekalian dijadikan pusat pelatihan petani coklat. Sarana ini
diniatkan untuk memfasilitasi seluruh kabupaten Deli Serdang.
Khusus untuk mengevaluasi kondisi sungai, masyarakat mengundang pencinta
alam Parintal FP USU, sekalian membuat acara bersih sungai sekaitan peringatan
hari bumi 22 April 2000. Acara yang mendapat dukungan Bapedalda - Kantor
GUBSU, Bagian Lingkungan Kabupaten Deli Serdang, Bitra, Walhi dan YES ini
didaftarkan ke peringatan hari bumi sedunia dengan tema : “lestarinya alam
dimulai dari diri anda”.
Aktifitas bersih sungai menghasilkan 780 kg sampah plastik perkilometer
dan analisa laboratorium menunjukkan bahwa sungai tercemar oleh bakteri
E. Coli. Karena sungai menjadi milik bersama, masyarakat mengundang 3 desa
arah hulu (Bengkurung; Kuala dan Batumbelin) bermusyawarah. 28 April 2000
terbentuklah Forum Masyarakat Pelestari Sungai (FMPS) yang diresmikan dengan
pelepasan 5000 bibit ikan tawes bantuan Dinas perikanan. Mereka mencanangkan
“lubuk larangan” bagi sepanjang sungai yang melintasi 4 desa, setelah terinspirasi
oleh kunjungan lapangan menonton panen ikan di Hutalombang - Padang Sidempuan.
Aturannya, tak boleh ada yang mengambil ikan sampai saat yang ditentukan,
dan tentu saja tak ada lagi sampah dibuang ke sungai. Seketika, sungai
bersih sampah plastik walau buang hajat masih terus. Perlu waktu.
Itulah, bulan lalu Uwan berkesempatan kembali kesana untuk menyaksikan
pesta rakyat. Gubsu, Bupati dan rombongan hadir membuka acara panen ikan
perdana dan memetik coklat yang matang. Setelah pidato-pidato singkat dan
acara adat, diawali oleh dentuman meriam bambu bersahut-sahutan, masyarakat
sepanjang 4 kilometer serentak terjun ke air menjala ikan. Disamping tawes,
ikan lokal ada yang terjaring, kalau tak salah namanya ikan jurug. Total
tercatat hasil hari itu lebih 2 ton, belum termasuk yang langsung dibawa
pulang kerumah. Wajah penduduk terlihat ceria, yakin akan masa depan dari
sumber sungai.
Diiringi lagu-lagu Tanah Karo dari orgen tunggal yang mendayu-dayu,
ratusan tamu kepedasan makan ikan bakar dan ikan goreng. Gubsu berkenan
mendukung program ini melalui APBD, sekalian diperluas ke desa-desa
hilir sungai.
Lokasi pembibitan dikembangkan untuk juga boleh menerima tamu-tamu.
Kini sudah ada 3 kamar dan satu ruang serba guna, mereka menyebutnya riverlodge.
Para tamu yang menginginkan suasana alam pedesaan, disuguhi rehabilitasi
rantai ekosistem dengan pendekatan kebun campur dan produk ekowisata lainnya.
Pengelolaan pariwisata rakyat yang difasilitasi oleh YES (Yayasan Ekowisata
Sumatera) ini mengetengahkan produk jelajah kampung, diantar menonton habitat
kalong; pembuatan gula merah; irigasi tradisional, goa alam, kebun salak
dan lokasi pesawat garuda jatuh.
Agar akses ke dunia luar efektif, melalui Bitra aktifitas sungai ini
didaftarkan ke International River Network (jaringan aktifitas pelestarian
sungai global) yang berbasis di Amerika. Keanggotaan internasional ini
kini membuat Sayumsabah tak lagi sekedar desa kecil pinggiran kota Medan,
ia adalah juga bagian jaringan advokasi sungai sedunia.
Kunci keberhasilan perawatan Lau Petani sangat tergantung pada sinergi
Pencinta alam, LSM Bitra, Praktisi pariwisata rakyat, perguruan tinggi
dan pemerintah daerah. Tentu tak serta merta itu, logika global sangat
mewarnai gerakan berbasis rakyat ini.***
kembali ke halaman utama