Hermanto Aziz, Burhan dan seniornya Sufri Laude dari LP3M Makassar cukup
berlega hati. Kenyataan ini Uwan temui saat april 2001 lalu bersilaturrahmi
ke kota angging mamiri itu. LP3M adalah LSM sejati dari Indonesia Bagian
Timur, eksis sejak 17 tahun lalu. LSM ini berkembang menjadi referensi
karena integritas dan eksistensinya, panutan untuk LSM muda dan banyak
dijadikan nara sumber bagi berbagai kalangan.
Mereka senang karena jerih payah sejak 1991 berbuah sudah. Masyarakat
di 7 pulau yang berpenghuni dari 21 pulau-pulau di Taman Nasional Laut
Taka Bone Rate telah bertumbuh menjadi masyarakat ramah lingkungan (environmental
friendly society). Tak ada lagi pengeboman ikan; tak ada lagi peracunan
ikan eksotis jenis napoleon; zonasi kawasan sudah tertata; kelompok konservasi
laut sangat kuat; ekonomi masyarakat bertumbuh pesat; kerjasama dalam dan
luar negeri berkembang; masyarakat memiliki kesadaran penuh untuk melestarikan
terumbu karang. Alhamdulillah.
Sufri dan tim-nya mengawali aktifitas pembangunan berbasis masyarakat
ini dengan mengembangkan berbagai dialog dan musyawarah. Mereka mengawalinya
dengan membangun jembatan komunikasi intensif dan persiapan sosial. Setelah
itu barulah masuk ke tahap merancang skenario pembangunan dengan melakukan
PRA (participatory rural appraisal – perumusan potensi secara partisipatip)
dan bersamaan dengan proses itu melakukan pula analisa ekosistem laut.
Yang paling penting lagi meletakkan dasar-dasar pijakan cara pandang
dengan menggali sejarah masa lalu keberadaan masyarakat di pulau-pulau.
Berkaitan dengan aktifitas ekonomi, mereka mendokumentasikan sejarah alat
tangkap; musim-musim produksi; jenis-jenis hasil laut yang ditangkap; volume
produksi tahun ke tahun; kapan mengenal bom; siapa yang mengajarkan; apa
ada perubahan ekonomi dll.
Bersama masyarakat mereka merancang skenario menuju kesejahteraan bersama,
yang tentu tidak mudah. Puluhan bahkan ratusan pertemuan telah diselenggarakan.
Formal maupun non-formal. Aktifis LP3M mengharungi laut dan selat-selat
antar pulau, baik kondisi laut tenang maupun sedang bergolak, untuk memfasilitasi
musyawarah dan penyadaran masyarakat akan masa depannya. Seluruh stake-holder
tak ada yang tertinggal. Tatap muka berlangsung di mesjid; arisan ibu-ibu
dan majelis ta’lim; di sela-sela petandingan sepak bola; di sekolah dasar
dengan guru-guru dan murid-murid; di pinggir pantai dan ditengah laut saat
nelayan memancing.
Berbasis sosialisasi yang sangat sempurna ini, bersama masyarakat mereka
melakukan pemetaan pulau-pulau. Dilakukan pengukuran secara manual menggunakan
meteran dan kompas yang kemudian dikonfirmasi dengan GIS agar akurat. Lalu
dirancang bersama pula zonasi yang diinginkan berdasarkan kondisi obyektif
lapangan dan kearifan berdasarkan pengalaman yang terakumulasi sejak ratusan
tahun. Lahirlah draft RPTK (rencana pengelolaan terumbu karang) dan skenario
pembangunan. Lucunya masyarakat tak mau tandatangan karena tak biasa.
Pakai cap jempolpun tak mau karena lama hilang bekasnya di jempol dan kuatir
wudhu tidak bersih. Tapi komitmen sangat kuat.
RPTK sangat rinci, didukung oleh 8 peta yang kalau di overlay bisa menjawab
seluruh persoalan tata ruang pulau-pulau. Ada peta perlindungan laut (sanctuary);
peta hidrologi; peta sarana prasarana; peta potensi sosekbud; peta aksesibilitas
transportasi; peta potensi pariwisata; peta potensi flora fauna dan peta
potensi sumber daya alam keseluruhan. Orang luar akan mengetahui dimana
areal ikan hias, kima, cumi, lola, ikan cakalang, karang hidup dan wilayah
konservasi. Ketahuan pula potensi air bersih dan penampungan air bersih
itu. Berdasarkan peta, dapat dipastikan alur masuk dan alur keluar kawasan,
gerakan arus berdasarkan musim dan penting lagi jalur menuju benteng –
Selayar dan arah menuju kabupaten Sinjai.
Potensi flora fauna dan potensi pariwisatapun telah dipetakan pula.
Mana areal ikan hias, habitat ikan pari, lokasi penyu bertelur, kawasan
yang dipersiapkan untuk wisata selam karena terumbu karangnya masih utuh
dan ada ikan napoleon. Tak kurang pula lokasi calon home-stay telah ditetapkan.
Pokoknya siap berinteraksi dengan investor.
Tahap lanjut dari segi infrastruktur sosial, LP3M bekerja untuk penyiapan
institusi seperti kelompok konservasi; kelompok perempuan; lembaga keuangan
pulau; lembaga kredit non-bank (dana awal dari pemda dan block-grant disalurkan
LP3M dari proyek Bank Dunia Coremap); dan terakhir menyiapkan Badan Perwakilan
Pulau sesuai otonomi daerah.
Akhir-akhir ini, mereka disibukkan dengan kedatangan investor lokal
dari Makassar untuk investasi skala kecil seperti pabrik es, alat tangkap
berikut kapal-kapal. Investor asing khusus untuk pariwisata dan budidaya
laut dari Filipina, Singapura, Korea, Jepang dan Italia. Pimpinan Pulau
dan masyarakat menjanjikan suasana berinvestasi bebas gejolak sosial. Tentulah,
karena hal itu sudah dibenahi lebih dulu.***
kembali ke halaman utama