
|
|
Payang Rumpon
Ir. Eni Kamal MSc adalah adik ideologis Uwan yang selalu gelisah. Ia
prihatin melihat handai taulan di kampungnya, desa Pondok – resort nelayan
Sasak, Pasaman Barat. Mereka umumnya berpenghidupan sedang sampai miskin
seperti umumnya perkampungan nelayan dimanapun di Indonesia. Tapi menurut
Eni, ada yang miskin justru karena tak mampu mengelola sumber keuangan
keluarga. Dengan penghasilan melaut yang sebegitu besar, walau kadang-kadang
minim karena sedang tidak musim ikan, total pertahun mestilah surplus.
Untuk itu ia memulai proses penyadaran ditengah keluarga. Mereka diajak
untuk berpikir maju, terutama dengan manajemen keuangan keluarga dan menggunakan
jasa perbankan dalam mengontrol keluar masuk uang. Rutin dilakukan pertemuan,
adakalanya dalam orde minggu. Sedikit demi sedikit, anggota keluarganya
teryakinkan. Kalau ingin berubah pola hidup, mestilah mengembangkan diri.
Setelah dinilainya pencerahan mengena efektif, maka Eni membuatkan
payang rumpon di tengah laut yang memiliki kedalaman tertentu. Ada 8 keluarga
yang merupakan saudara dekat terlibat program swakarsa ini. Teknologi payang
rumpon yang sebetulnya artificial fishing ground ini dibuat sederhana saja.
Ia mengikat setumpukan pelepah kelapa dan pinang dengan luasan tertentu,
diberi pemberat batu yang diikat tali. Kesemuanya dibenamkan kelaut pada
kedalaman mendekati 15 meter, dimana jaringan pelepah kelapa dan pinang
mengambang pada kedalaman sekitar 8 meter. Keberadaan rumpon di permukaan
ditandai dengan bambu yang terpaut pada rumpon. Bambu diberi warna dengan
cat tertentu, sampai 8 macam karena ada 8 pemiliknya. Nilai investasi satu
rumpon tak lebih dari 200 ribu rupiah.
Jarak antar rumpon diperkirakan setengah sampai satu mil, masih dalam
jangkauan mata telanjang. Jarak dari pantai mencapai lebih 8 mil
ketengah, cukup jauh untuk memperkecil kemungkinan penjarahan. Anggota
kelompok harus menggunakan mesin tempel kalau akan mengunjungi rumponnya.
Terpakai waktu sampai satu jam.
Kesepakatan kelompok adalah setiap penghasilan dari tangkapan harus
disetor ke Bank Nagari di Simpang Empat. Besar maupun kecil, tak ada pengecualian.
Untuk bulan pertama, pinjaman untuk biaya hidup dikeluarkan dari kocek
Eni. Pinjaman untuk keluarga besar, nominal 1,5 juta rupiah. Bagi keluarga
kecil dinilai cukup 1 juta saja. Nilai uang sebanyak itu, kira-kira setara
dengan perolehan pegawai negeri golongan 3B. Tiap anggota memiliki rekening
sendiri dan menyimpan bukunya di rumah masing-masing.
Itulah, bulan pertama anggota kelompok mulai memancing di fishing
ground buatannya sendiri. Rutin serta penuh pengharapan. Minggu pertama
saja sudah mulai diperoleh hasil memadai. Karena sudah ada belanja keluarga,
setiap anggota yang memperoleh penghasilan, segera hari itu juga menyetor
seluruhnya ke bank. Pola penyetoran tak perlu sendiri-sendiri, bisa menitip
kepada anggota kelompok yang juga akan menyetorkan uangnya Tak berapa bulan,
pinjaman awal sudah terlunasi oleh mereka.
Namun demikian mereka tak bisa seenaknya membelanjakan uangnya. Ada
kesepakatan lanjutan, yakni belanja bulanan tetap seperti semula. Bila
ada kebutuhan lain, istilahnya boleh meminjam ke rekening sendiri. Untuk
kebutuhan misalnya lebaran, biaya sekolah anak, memperbaiki rumah yang
mengalami kerusakan kecil, atau mau jalan-jalan ke Padang, disepakati boleh
mengambil uang berlebih. Namun, bulan berikutnya harus melunasi kembali.
Juga ke rekening sendiri.
Setelah hampir 2 tahun pelaksanaan program ini, dilakukan evaluasi.
Tiap anggota nyatanya telah memiliki tabungan jutaan di rekeningnya masaing-masing.
Dari data 3 bulan lalu, jumlah uang direkening berkisar antara 8 juta sampai
38 juta. Suatu nilai yang lumayan, apalagi kalau diakumulasikan sampai
5 tahun mendatang. Mungkin kepala keluarga dan istri sudah bisa berangkat
naik haji.
Pendekatan persuasif partisipatoris gaya Eni ini efektif untuk dikembangluaskan
ke resort nelayan lainnya sepanjang pantai barat Sumbar. Kalau tak silap,
dari Indrapura ke Air Bangis ada lebih sepuluh perkampungan nelayan yang
memiliki kondisi serupa dengan desa Pondok, kampungnya Eni. Soalnya apakah
ada sosok Eni disana. Jelas tak mungkin, namun polanya dapat saja di replikasi.
Butuh motivator yang berkomitmen tinggi dan mau memfasilitasi para
keluarga nelayan untuk membuka diri. Motivator mana memiliki kemampuan
metodologis memfasilitasi musyawarah nelayan. Betah berhari-hari dan berjam-jam
membangun hubungan batin dengan kaum nelayan. Sepanjang pengetahuan Uwan,
walau masyarakat nelayan sangat terbuka, sebagaimana ciri khas orang pesisir,
pada dasarnya memiliki perasaan sangat halus. Perlu pendekatan spesifik.
Motivator kelas Eni baru mengindikasikan kemungkinan sukses.***
kembali ke halaman utama
|