HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Pilihan Produk Wisata

Walikota Subari Sukardi dengan dukungan legislatif bersepakat merumuskan kota wisata tambang yang berbudaya sebagai visi Sawahlunto 2020. Sebuah pilihan yang antisipatif terhadap masa depan kota, berkaitan dengan kemungkinan penutupan tambang Ombilin, otonomi daerah, perolehan dari sektor pariwisata dan globalisasi.

Pilihan ini cukup realistis untuk tetap mempertahankan keberadaan kota serta cukup unik dengan menjadikan suasana kawasan pertambangan sebagai produk wisata. Ditambah lagi cukup banyak bangunan lama yang masih utuh sebagai produk lainnya untuk wisatawan yang mengagumi arsitektur kota. Positifnya lebih lanjut, tambang tua berikut bangunan warisan lama terkonsentrasi diareal 5 kilometer persegi saja.

Hanya saja saat ini, dikawasan ini terpusat seluruh aktifitas warga kota, baik untuk urusan domestik rutin maupun aktifitas karyawan tambang. Seluruh denyut kota tumpang tindih di titik ini sehingga mengesankan kesemrawutan dan tentu penuh sesak.
Menurut Uwan, pengembangan wisata dengan produk unik ini mesti dirancang secara sistemik dan berselera global. Ini mengingat, segmen turis yang akan dijaring jelas mereka yang berwawasan luas dan punya apresiasi tinggi. Serta paling penting, mereka tentulah orang yang berduit. Untuk itu Uwan punya usul :

  • Lakukan dekonsentrasi pusat kota dengan membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru. Jadi, pindahkan aktifitas ekonomi domestik ke luar kota lama, mungkin ke Muara Kalaban dipinggir trans Sumatera atau ke arah Talawi. Mengingat terbatasnya areal, bangun sarana pertokoan dan pemukiman modern yang hemat pemakaian lahan.
  • Dekonsentrasi juga diarahkan dengan memindahkan aktifitas pertambangan dan pemukiman karyawan ke suatu kawasan baru diluar kota lama.
  • Seluruh proses dilakukan secara partisipatoris bersama warga kota dengan sangat terrencana. Mungkin memakan waktu 5 - 10 tahun.
  • Mengembangkan alternatif jalur transportasi publik untuk mereduksi kepadatan dari dan kearah kota lama. Kendaraan lalu lalang hanya diperbolehkan untuk keperluan wisata saja. Hidupkan jalur kereta api kuno wisata dari dan ke Sawahlunto, mungkin dari Padang atau hanya sekedar Silungkang - Sawahlunto pulang pergi.
  • Mendata potensi arsitektur kota dan merevitalisasi seluruhnya untuk kepentingan wisata. Berbagai properti dikembangkan menjadi hotel dan penginapan, convention hall, art-shop, galery, antique, toko kerajinan etnis (local ethnics and design). Untuk jenis-jenis makanan dikembangkan restaurant, tavern, coffee shop. Khusus untuk kehidupan malam yang sehat dikembangkan theatre, bioskop, rumah musik dll. Kalau perlu film Salah Asuhan yang mengambil setting kota Sawahlunto dijadikan suguhan malam penuh kenangan bagi pengunjung.
  • Pemda menyusun Perda yang berkaitan dengan arsitektur kota, mekanisme interaksi terhadap kota dan karakternya melalui positive and negative list of investment.
  • Menyusun sejarah kota dan mengemas seluruh produk informasi wisata dalam bentuk multimedia yang disebarkan ke seluruh penduduk planet melalui internet.
  • Mengembangkan sarana untuk kursus batubara singkat. Selama 2-3 hari pengunjung belajar mengenai pertambangan batubara yang dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke areal tambang tua maupun tambang aktif. Dengan demikian pengunjung akan memiliki informasi yang cukup lengkap tentang dinamika tambang batu bara. Peserta diberi sertifikat yang dilengkapi  penghargaan sebagai mitra kota dengan menyematkan lencana khusus (associates citizen). Para mitra secara rutin diundang menghadiri perayaan kelahiran kota atau hari besar lain (inilah repeater tourist yang akan membawa dolar secara rutin).
  • Mengemas rumah kelahiran Muhammad Yamin, Soedjatmoko dll. sebagai tujuan wisata sejarah. Ditempat-tempat ini akan diperoleh informasi tentang sejarah hidupnya, pemikiran yang ditelorkan dan kiprahnya dalam dunia nasional/  internasional. Berbagai seminar dan lokakarya tentang pemikirannya diselenggarakan secara periodik dan bertaraf internasional untuk menambah kedatangan turis.
  • Membersihkan sungai yang mengalir ditengah kota, menaikkan muka air dan menjadikannya sebagai atraksi wisata. Kiri kanan sungai dikembangkan menjadi kawasan pedestrian yang lapang dan leluasa untuk anak-anak berlelarian secara leluasa.
Kemasan produk diatas dilandasi logika sederhana. Sawahlunto ingin kunjungan 100 orang turis yang hanya mampu membelanjakan 10 dolar perhari atau cukup 10 turis tapi mampu berbelanja 100 dolar perhari. Ekstrimnya lagi, kalau perlu hanya 1 orang turis saja, namun mampu mengalokasikan uang 1000 dolar perhari. Sawahlunto, berpeluang untuk kedatangan turis jenis ketiga, asal cerdas mengemas produk wisatanya. Diperlukan skenario berselera tinggi dan berwawasan global.***

kembali ke halaman utama