Purnama Penuh di Katiet

Purnama di teluk Katiet, dusun kecil ujung tanjung tenggara Pulau Sipora - Mentawai. Bulan penuh menerangi seantero dusun, minggu menjelang tengah malam, 12 Nopember 2000. Ombak memecah kecil di bibir pantai, meninggalkan debur yang mampu menggugah motorik halus siapa saja yang menikmatinya. Pendar-pendar cahaya memantul dari laut yang tenang, rasanya bisa dibuat bercermin. Senyap, namun indah sekali.

Ketika itu Uwan terlibat percakapan seru dengan tokoh masyarakat, berkisar tentang makin banyaknya berdatangan para pesilancar mancanegara untuk menguji keterampilannya. Katiet kini sudah diperhitungkan sebagai  lokasi potensial oleh peminat olahraga surfing dunia. Tamu-tamu pesilancar dari Brazil, Amerika, Jepang, Australia pernah bermain kesini dan selalu kembali.

Lokasi ini memang unggul, karena sepanjang tahun ombaknya bisa diajak bercanda. Makanya, walau sudah nopember, masih saja ada tamu-tamu yang berkunjung. Sore tadi,  ada tujuh pesilancar dari Australia yang sedang beraksi, katanya sudah sejak pagi.

Yang lebih menggembirakan justru pesilancar alam, anak-anak muda Katiet. Dari Jusar Samaloisa, mantan Kades Bosua yang menetap di Katiet, Uwan mendapat informasi hampir tiga puluh anak sudah cukup terampil bersilancar. Memang belum didukung teori dan metodologi. Tapi berbekal bakat alam dan hanya meniru saja, manuver mereka menaklukkan ombak mendatangkan decak kagum tamu-tamu mancanegara yang menontonnya. Tehnik Take-off ( memulai menunggangi papan selancar saat ombak akan memecah) sudah pada mulus, cut-back ( melompat belakang melangkahi ombak) nyaris sempurna dan beberapa sudah main di area glassy (terowongan ombak setipis kaca).

Salah seorang anak yang unggul namanya Marius. Belum lima  belas tahun umurnya, namun sayang sudah tak mau sekolah. Ia hanya membantu orang tuanya berkebun kelapa dan nilam, sisanya sibuk bersilancar. Postur tubuhnya sedang-sedang saja dan mungkin kelak akan jangkung, menilik perkembangan usianya. Kulitnya sawo matang mendekati hitam, akibat tiap hari bersilancar. Yang menarik rambutnyapun menguning jagung, tidak dicat apa-apa seperti ABG kita di kota. Kuning jagung alami.

Tiap hari ia ada di bibir laut, bermain dan bergurau dengan ombak. Saking terampilnya, ia tak lagi bermain di tempat biasa bersama kawan-kawannya. Ia sudah bermain ketengah, tempat para profesional yang menginginkan tingkat kesulitan tinggi. Disana cukup berbahaya, karena ombak yang ditunggangi segera memecah keterumbu karang. Artinya, dalam orde detik harus segera mengambil keputusan melakukan manuver untuk menghindari bahaya. Saking seringnya bermain di kawasan itu, iapun mulai fasih berbahasa Inggris, walau bahasa Indonesianya masih terpatah-patah.

Matanya langsung berbinar bila diajak bicara perihal selancar. Ia bercerita papan selancarnya kesayangannya merupakan hadiah dari turis Brazil yang mengagumi kemampuannya bermanuver di kawasan berbahaya. Menurut turis itu, kemampuan mana baru akan diperoleh setelah orang bersilancar rutin diatas lima tahun. Padahal, Marius baru berkenalan dengan olah raga ini sejak dua tahun belakangan. Ia menceritakan cita-citanya untuk sekali waktu berselancar dengan pesilancar dunia di Hawaii dan Tahiti.

Kenapa kedua lokasi itu diminatinya?. Itu karena ia melihat-lihat gambar ombak di majalah surfing berbahasa Jepang yang disimpannya rapi di pondoknya. Majalah itu ditinggalkan turis Jepang yang berkunjung tahun lalu kesana. Minatnya tentu berkembang kelak seiring informasi tambahan yang bakal diperolehnya.

Dari bapaknya diperoleh cerita, bulan lalu ada pesilancar Amerika yang meminta Marius untuk dibawa pulang ke kampungnya di Hawaii. Turis itu berminat untuk melatihnya serius dan akan mengorbitkannya ke kejuaraan dunia junior yang selalu diadakan tiap tahun disana. Namun mengingat umurnya sedemikian muda, lagian belum pernah keluar Katiet. Dikuatirkan ia bisa mengalami gegar budaya dan akan merusaknya dalam jangka panjang.

Hemat Uwan, lebih baik dicarikan sponsor lokal dan mulai mengenalkannya ke beberapa lokasi surfing  lain di Indonesia. Bisa diajak untuk surfing dan belajar teori ke Lagundri di Nias, ke puluhan lokasi di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumba dan Sumbawa. Bisa pula disponsori untuk turnamen yunior tingkat nasional. Bila sudah terampil dan didukung oleh kemampuan metodologis, serta didukung oleh kematangan psikologisnya, barulah boleh terbang ke Hawaii.

Surfing adalah olahraga yang mendunia. Tak semua tempat memiliki ombak yang ideal untuk surfing. Kawasan ombak di halaman rumahnya akan selalu memanggilnya, sehingga dalam waktu setidaknya 5 tahun, Marius sudah boleh diandalkan untuk menjadi profesional sekaligus kebanggaan masyarakat Mentawai.
Marius adalah purnama yang akan makin bersinar bila pengembangannya mendapat dukungan semua pihak. Purnama penuh akan diperoleh dengan kelahiran pesilancar profesional asal Katiet.

kembali ke halaman utama