HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Ro-Ro Padang Merak

Pikiran kreatif senantiasa perlu dikembangkan untuk mencari tambahan pemasukan bagi kota Padang. Bila selama ini para aparat birokrasi adalah penerima dan penyelenggara dana dari pusat, masuk ke paska otonomi tentu perlu merubah cara kerjanya. Tidak lagi sekedar pelaksana, namun harus putar otak untuk menggali sumber-sumber pemasukan. Setelah itu baru membelanjakannya dengan sehemat dan seefektif mungkin. Tidak cukup mengefisienkan pembelanjaan saja, namun perlu kreatif mengembangkan sumber-sumber baru. Kinerja aparat kelak tentu boleh diukur dari peningkatan PAD riel dari sektor yang dikelolanya.

Menurut salah satu rekan Uwan, Pemdako Padang perlu mengundang investor yang akan berinvestasi mengelola kapal ferri yang kelak membawa truk bermuatan ke Merak di Pulau Jawa. Polanya, truk bermuatan langsung masuk ke ferri berteknologi roll-on roll-off. Ferri berfungsi sebagai kapal kargo, tapi tak terlalu membebani pelabuhan dengan berbagai peralatan transfer barang. Pelabuhan Teluk Bayur cukup membangun jalur sandar ferri dengan landasan yang berkoneksi ke jalan keluar masuk. Jalur ini kelak akan strategis sebagai transportasi laut bagian barat untuk barang melengkapi jalur penumpang yang sudah dioperasikan oleh Pelni.

Dengan perhitungan yang matang dan rinci, investor secara bertahap mengembangkan armadanya. Mungkin bisa mulai dengan 4 unit pulang pergi dengan waktu tempuh 30 jam sekali jalan. Bila diasumsikan tiap ferri membawa 200 kendaraan, maka maksimum akan berlangsung perpindahan 16.000 buah dari dan ke pulau Jawa perbulan. Sebuah angka yang bukan main. Bayangkan bila jumlah ferri meningkat menjadi 10 unit, 40 ribu-an kendaraan melenggang ke Jawa.

Hikmah yang dapat diperoleh dari adanya fasilitas kargo Padang Merak pp. ini tentu bervariasi. Yang jelas, bila perhitungan cocok, jalur ini akan diminati oleh pemilik truk karena akan mengurangi laju depresiasi mobil dan menghadirkan penghematan luar biasa. Dari rekan yang berbisnis otomotif, Uwan mendengar bahwa untuk satu trip pp. Padang - Jakarta dua ban truk sebelah depan wajib diganti baru. Bila ikut ro-ro, ganti ban mungkin perlu setelah 5 – 6 trip.

Demikian pula efisiensi di sektor bahan bakar, cukup 15 % dari sebelumnya. Untuk pak Supir, disamping bisa tidur nyenyak dan istirahat 30 jam, tidak pusing lagi untuk melayani berbagai pungutan ilegal di sepanjang jalan. Tak ada lagi setoran ke jembatan timbang, melayani oknum polisi yang butuh uang rokok dan bebas pungutan liar di kawasan rawan. Enaknya lagi, menggunakan jasa ro-ro jelas bebas jarahan.

Dari segi pengelolaan pembangunan, pasti akan terjadi penurunan drastis biaya pemeliharaan jalan negara. Karena kini kualitasnya sudah tinggi dan ber-hotmix, bila hanya dilalui kendaraan ringan karena seluruh truk sudah terserap ro-ro, maka jalan akan pasti lebih awet dan dapat dipakai lebih lama. Artinya secara umum, biaya pengelolaan jalan jauh lebih rendah.

Untuk Pemda Padang, ini pekerjaan besar. Dapat merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya mengefektifkan pelabuhan Teluk Bayur. Bila pelabuhan ini ramai dan aktif, jelas tak sedikit kontribusinya kepada PAD. Tinggal tentukan saja berapa retribusi tiap truk dan perkuat dengan Perda. Teluk Bayur kelak akan kembali terkenal sebagai  sebagai kota pelabuhan embarkasi terkemuka di wilayah pantai barat sumatera.

Bayangkan nyamannya. Setelah terapung-apung selama 30 jam, dengan kondisi fisik segar bugar, Pak Supir tentu akan bersiul-siul kecil melanjutkan perjalanannya ke Riau, Sumut terus ke Aceh. Demikian pula sebaliknya, dari arah propinsi-propinsi Sumbagut, berlayar ke Jawa lewat Teluk Bayur. Dengan kondisi prima, tentu sama siulnya waktu menginjakkan kaki melanjutkan perjalanan ke kota-kota tujuan di Pulau Jawa. Uwan yakin, salah satu siulan lagu dangdutnya berjudul Wajah Di Balik Kaca.

Ferri Ro-ro ini sangat terasa manfaatnya waktu tingkat antrian Merak Bakauheni sedang tinggi, misalnya saat lebaran, akhir tahun atau sedang liburan sekolah. Waktu itu, truk pasti mendapatkan prioritas kedua. Bahkan pernah terjadi, truk perlu menunggu sampai dua minggu. Pelni dan perum ASDP lebih mendahulukan bis penumpang dan kendaraan pribadi menaiki ferri, baru boleh truk bila masih ada lowongan.

Maka pada situasi ini, terjadilah kemandekan pengiriman barang keperluan harian/ consumer goods ke Sumatera. Akibatnya, pasti terjadi lonjakan harga barang. Untuk arus barang ke pulau Jawa tentu macet demikian pula, ditandai oleh informasi koran-koran nasional yang mengabarkan kenaikan harga sayur-sayuran sejenis cabe, kentang, kol, dll.

Demikian pula, pemilik barang galeh mudo ini juga terkena kerugian besar. Bila keterlambatan mencapai satu minggu saja, dipastikan hampir seluruh kirimannya ke Jawa akan membusuk. Pengalaman, pernah sekali waktu sejawat Uwan mengirim 10 truk markisa dari Alahan Panjang, busuk semua karena terhambat di Bakauheni. Rugilah. Siapapun pasti merugi. Tapi ceritanya lain bila ada pilihan Ro-ro.***

kembali ke halaman utama