Selasa pagi 11 Maret 1986, masih dingin di Illinois. Uwan berkunjung
ke bekas rumah Presiden Abraham Lincoln di desa Springfield. Rumah Presiden
Amerika ke 16 yang berkuasa pada 1858 – 1862 terkesan bersahaja sesuai
prinsip hidupnya. Lincoln dari selatan terkenal sebagai presiden yang mengharamkan
perbedaan warna kulit dan menentang perbudakan. Untuk itu ia menjadi salah
satu presiden legendaris, pujaan jutaan warga kulit hitam Amerika. Ia lebih
melegenda setelah terbunuh dalam suatu pergumulan politik ras berkepanjangan.
Uwan berdesakan untuk dapat masuk ke kawasan bersejarah itu. Antrian
cukup panjang sehingga untuk sampai ke tempat membayar/ entrance gate saja
mencapai hampir 2 jam. Fantastis. Pengunjung seakan menaiki mesin waktu,
kembali ke suasana waktu Lincoln mendewasa di desa itu. 5 buah rumah kiri
kanan rumah bersejarah ini dipertahankan keutuhannya.
5 blok kawasan desa tetap seperti 2 abad silam. Jalanan masih berkerikil
halus, tak boleh ada kendaraan lewat. Seluruh jalan blok diperuntukkan
bagi pedestrian. Penghuninya sedemikian rupa berpakaian seperti tahun-tahun
Lincoln hidup disana 150 tahun berselang. Demikian juga dalam berbahasa,
penduduk mempertahankan logat selatan dengan sangat kentara. Uwan sempat
berbicara dengan penghuni salah satu rumah tetangga, seorang nenek, namun
kesulitan memahami keseluruhan keterangannya.
Untuk menambah nilai plus wisata sejarah ini, diceritakan pula tentang
masa muda Lincoln dan tentang masa pacarannya. Kuburan pacarnya yang meninggal
pada umur 16 tahun, Ann Rutledge, diartikulasi sedemikian rupa dengan ungkapan
dibatu nisannya : Here lies Ann Rudledge, the beloved soul of Abraham Lincoln.
They are weded not by marriage, but by separation. Ya, mereka dipersatukan
justru bukan lewat pernikahan, tapi karena perpisahan.
Indah sekali dan banyak para Oma dan gadis-gadis menitikkan air mata.
Ceritanya, saat kematian pacarnya itu, Lincoln sangat terpukul dan stress
sehingga sempat menghuni rumah sakit gila selama 2 tahun. Kuburan pacarnya
yang dinaungi pohan maple ini adalah bagian dari kemasan wisata yang akan
selalu dikenang oleh para turis.
Saking banyaknya pengunjung kawasan rumah Lincoln ini, sampai-sampai
dibangun hotel berbintang 5. Hotel Hilton, dan berbagai rantai perhotelan
internasional dibangun untuk menampung jutaan pengunjung tiap tahunnya.
Kunjungan turis yang mencoba memahami Amerika dengan mendatangi rumah Lincoln
adalah bisnis besar jutaan dolar.
Pada kesempatan lain dalam kunjungan Uwan ke Washington, sekali waktu
sempat juga berkunjung ke kuburan George Washington di kawasan Mont Vernon
– Virginia. Rumahnya besar sekali dan masih utuh 1764 kamar budaknya. Pengelola
rumah ini mempertahankan pohon yang tumbuh dilamanannya. Dapurnyapun masih
asli. Istal kuda berderet-deret masih utuh. Diperlihatkan juga kamar tempat
ia mulai pingsan dan ranjang kematiannya. Untuk mengkonservasi pohon-pohon
asli, berbagai ahli didatangkan. Katanya, pakai disuntik segala. Begitu
bangsa Amerika membangun sejarah masa depannya.
Di Bukittinggi, rumah kelahiran Bung Hatta juga ada. Rumah Proklamator
Republik Indonesia yang akan dikenang sepanjang masa berkat jasa-jasanya
seperti ada dan tiada. Bila tak jeli menengok ke kiri jalan kalau kita
dari arah pasar Aua Tajungkang, niscaya akan kelewatan. Rumah itu sudah
dikonservasi oleh Universitas Bung Hatta, tapi seakan terselip oleh bangunan
beton ruko sebelah menyebelah.
Mengambil hikmah dari pengemasan paket wisata ke rumah Lincoln dan Washington
diatas, sebagai kawasan wisata utama di Sumbar, nampaknya pemugaran rumah
Bung Hatta saja tidak cukup. Idealnya, kiri kanan bangunan harus dibebaskan.
Kembalikan ke suasana waktu Bung Hatta pernah mendewasa disitu. Berapapun
ganti rugi, lebih baik dibayar saja oleh pemda. Bangun kembali rumah-rumah
dengan desain yang dulu ada. Jalan didepan rumah dikembalikan ke asal semula,
mungkin hanya batu pecah bersusun saja. Mobil tak boleh lewat, mungkin
hanya boleh bendi.
Untuk tidak sekedar disebut membangun monumen, integrasikan perpustakaan
Bung Hatta di Yogya dan di Bukittinggi ke kawasan itu. Kembangkan lagi
produknya seperti pusat studi koperasi atau pusat pengembangan pemikiran
Bung Hatta. Pikiran-pikiran visioner Bung Hatta dibenturkan dengan kenyataan
ekonomi yang terpuruk sekarang dan kembangkan berbagai seminar nasional
dan internasional untuk merumuskan rekomendasi kebijakan. Dan sebagainya,
dan sebagainya.
Banyak sekali yang harus kita kembangkan berkaitan dengan manusia besar
yang dilahirkan disini. Perlu nampaknya kearifan pengelola kota akan masa
depan rumah Bung Hatta sebagai salah satu daya tarik kota Bukittinggi.
Seriuslah sedikit.***
kembali ke halaman utama