Uwan pulang ke Bandung lagi bulan itu. Disamping urusan pekerjaan, selalu
ada kerinduan untuk kembali. Maklum, Bandung memang sudah menjadi tanah
air kedua setelah Sumbar karena dulu Uwan hampir sepuluh tahun menetap
disana. Menikam jejak, berjalan kaki setelah shalat subuh adalah kenyamanan
yang susah dicari bandingannya. Bayangkan, kembali menelusuri sudut-sudut
penuh kenangan ditengah dingin-segarnya hawa pagi hari. Duh, hebring kata
orang Bandung.
Kali ini melangkah santai masuk dari jalan Siliwangi, Sumur Bandung
terus menghiliri Taman Sari sampai ke pertigaan Wastukencana. Di pangkal
jembatan, Uwan duduk-duduk melepaskan lelah sambil memandang jauh ke utara.
Gunung Tangkuban Perahu yang mirip perahu terbalik samar-samar menyembul
dibalik kabut pagi.
Memandang-mandang, dibawah hamparan panorama indah itu menjulang tinggi
bangunan kampus Unisba. Alhamdulillah, kampus islam yang mulai menggeliat
sejak rektor KH. EZ. Muttaqien (almarhum) 25 tahun yang lalu kini benar-benar
terbangun sesuai rencananya. Tak pernah terbayang bagaimana mimpi
muluk tokoh MUI Jabar dulu itu kini menjadi kenyataan. 20.000 lebih mahasiswa
dinamik menuntut ilmu di berbagai fakultas yang katanya selalu bertambah.
Apa rahasianya ?
Penasaran, Uwan segera mencari Kang Adjat, teman lama yang menetap di
Linggawastu. Ia tahu betul perkembangan Unisba walau tidak ada kaitan struktural
apapun. Ia hanyalah pedagang keliling senasib Uwan saja, konsultan lepas
urusan geologi pertambangan. Makanya kami masih akrab sampai kini.
Sambil menyeruput kopi hangat, Kang Adjat menceritakan pesatnya kemajuan
Unisba, terutama sejak rektor Ahmad Tirtosudiro yang kini Ketua DPA. Rektor
Unisba sekarang adalah Prof. Bagir Manan yang baru saja diangkat menjadi
Ketua Mahkamah Agung.
Yang hebat lagi ceritanya adalah bahwa setiap mahasiswa, tanpa kecuali
harus di format dulu sebelum menjadi warga Unisba. Mahasiswa baru bergantian
masuk kampus Ciburial di Dago Pakar selama satu minggu. Di kampus berpemandangan
indah karena leluasa memandang Bandung dari ketinggian inilah mereka wajib
mengikuti kuliah agama, pendidikan moral dan etika serta kuliah umum tentang
dampak modernisasi terhadap akidah. Selama berkuliah umum ini, tehnik dan
penerapan shalat diperbaiki dan disempurnakan. Mahasiswa baru mengalami
format diri karena hadir disana dari berbagai latar belakang yang berbeda.
Katakanlah, mereka menjalani tradisi ritual peletakan fondasi moral dan
etika yang akan sangat bermanfaat kelak dalam mengharungi masa depan yang
pasti akan penuh onak dan duri kehidupan. Ah, Satu minggu yang tentu penuh
kenangan. Selalu dan terus akan teringat.
Pengajarnya terdiri dari kalangan kampus, dosen-dosen ditambah pengajar
dari kampus lain, didukung oleh tokoh-tokoh yang didatangkan dari Jakarta.
Pasti suasana ajar mengajar senantiasa asyik dan bergizi. Akan terbangun
wacana dialektis yang kelak pasti mewarnai penampilan mahasiswa. Hari terakhir,
ada ujian tertulis, praktek dan lisan. Kalau tidak lulus harus mengulang
lagi tahun depan.
Untuk memenuhi persyaratan lulus-pun, mahasiswa juga wajib ke Ciburial
lagi selama seminggu. Bila dulu bisa disebut peletakan dasar-dasar moral
dan etika, maka kini merupakan pemantapan, pematangan dan penyempurnaannya.
Disamping otak sudah terasah selama sekian tahun, motorik sudah bertumbuh
terampil, maka tahap ini merupakan pengisian terakhir dada mereka sebelum
menjadi wisudawan. Harmoni otak, anggota gerak dan keteguhan batin adalah
bekal sarjana lulusan Unisba melangkah mengharungi kehidupan nyata di masyarakat.
Alangkah indahnya.
Kampus Ciburial yang berdaya tampung 600 orang ini, bisa disewakan kepada
perusahaan, instansi pemerintah atau kantor mana saja yang membutuhkan
rapat-rapat, seminar atau pelatihan. Sarana ini salah satu usaha profit
Unisba.
Pola penggodokan awal yang dikembangkan Unisba ini paling tidak dapat
menjadi sarana pengembangan daya tahan mahasiswanya menghadapi wabah narkoba,
benteng iman menghalau penjalaran penyakit masyarakat dan agar mampu berkonsentrasi
menimba ilmu. Tapi kata Kang Adjat lagi, tetap saja masih berkembang penggunaan
narkoba serta prostitusi di kalangan mahasiswa. Modernisasi salah satunya
menghadirkan wajah konsumerisme buram, melunturkan iman untuk menghalalkan
segala cara mengapai materi.
Pola ini layak ditiru oleh perguruan tinggi kita di Sumbar. Melalui
pengkajian mendalam, prosesi ini sepatutnya disajikan kepada mahasiswa
kita di kampus-kampus. Katakanlah, kampus Bung Hatta yang baru berulang
tahun, tentu memerlukan sarana untuk menanamkan sosok keteladanan Bung
Hatta dengan berbagai pemikirannya yang menghadirkan wacana bernuansa
kebangsaan. Dengan demikian, baru ada bedanya lulusan Bung Hatta dibandingkan
dengan lulusan manapun. Bung Hatta kecil sah lahir dari rahim kampus Ulak
Karang.***
kembali ke halaman utama