Pilihan visi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya menuju 2020 mengharuskan
para pihak di Sawahlunto lompat kodok (leap-frog) ke era informasi yang
serba cepat dan canggih. Ini mengingat posisinya yang tidak dikenal dalam
peta wisata nasional, apalagi oleh mancanegara. Namun visi yang melangkah
jauh kedepan ini bukan tak mungkin diwujudkan, karena saat ini dikenal
teknologi informasi, yang lazim disebut sebagai internet.
Memanfaatkan teknologi internet ini, masyarakat Sawahlunto seakan tidak
lagi mengalami kendala jarak, ketinggalan informasi sekaligus mudah menginformasikan
dirinya ke tingkat manapun.
Sebutlah. Uniknya tambang terbuka yang cukup tua diperindah oleh arsitektur
bangunan yang eksis sejak jaman kolonial. Suasana eksotis terhampar sekeliling
kawasan, nayman bila dipandang siang maupun malam hari. Ditimpali pula
suasana sejuk dan keramahan warga kota. Kesemuanya adalah produk,
peristiwa dan pesona wisata kota Sawahlunto.
Seluruh fenomena unggulan ini dapat diinformasikan secara atraktif dan
efektif menggunakan berbagai media informasi, terutama internet. Cukup
dengan membuat situs internet, hosting di portal yang ramai dikunjungi
maka dunia akan segera mengenal Sawahlunto. Pendatang ke Sawahlunto kelak
misalnya, karena sudah mengantongi informasi, cukup kirim e-mail untuk
akomodasinya.
Skenario 2020 diatas diawali dengan membangun suatu jaringan sistem
informasi komunikasi antar komponen masyarakat yang “on-line” dengan sistem
global. Intinya berbentuk pengembangan sistem jaringan berbasis teknologi
informasi yang menghubungkan berbagai kepentingan dan aktifitas rakyat
Sawahlunto sesamanya, regional, nasional dan internasional. Vertikal maupun
horizontal.
Untuk mengintegrasikan berbagai kepentingan itu dimana potensi wisata
termasuk didalamnya, sebenarnya sangat mudah. Cukup dimulai dengan menghadirkan
suatu perangkat Personal Computer versi terakhir ditiap simpul-simpul informasi
kota Sawahlunto. Katakanlah seluruh jajaran pemerintah kota, sampai ke
tingkat paling bawah kecamatan dan kelurahan. Demikian pula, tak ketinggalan
seluruh komponen organisasi masyarakat, baik organisasi sosial maupun pelaku
bisnis. Khusus untuk pebisnis yang berkaitan dengan pariwisata, perlu diprioritaskan
lebih dahulu.
Urusan tahap awal disamping perangkat keras yang mudah dibeli selama
ada uang, adalah menyiapkan SDM yang akan mengoperasikan dan terbiasa dengan
teknologi informasi. Berbagai pelatihan dan lokakarya yang berantai dan
rutin adalah pekerjaan sistematis yang mau tidak mau harus dijalani. Para
pegawai negeri; pelaku bisnis; kalangan industri; pekerja tambang; ulama
dan ninik mamak; kelompok profesi; pelajar dan mahasiswa sampai-sampai
ibu rumah tangga diajak untuk berbudaya informasi.
Untuk mengatasi kendala komputer, kita perlu mengundang investasi skala
kecil-menengah menerjuni bisnis sewa, yang lazim dikenal sebagai cafe internet
atau warung internet (warnet). Keberadaan Warnet, disamping untuk memasyarakatkan
budaya informasi, sekaligus untuk menjangkau para pemakai yang belum memiliki
komputer dirumahnya.
Selalu saja ada keluhan biaya telepon akan mahal, mengingat di Sawahlunto
tidak ada penyedia pelayanan lokal untuk akses ke global. Untuk itu, bila
ada kebutuhan dan masuk dalam hitungan ekonominya, Uwan rasa server sejenis
Indosat tidak berkeberatan untuk menginvestasi sehingga masyarakat bisa
main internet sepuas hati dengan biaya pulsa lokal.
Keberadaan teknologi ini mendatangkan berbagai kemudahan sekaligus efisiensi.
Dalam bidang pemerintahan misalnya, Walikota tidak perlu lagi mengirim
surat atau memo hard copy serta menugaskan staf menjadi kurir. Cukup di-klik
saja dengan seketika seluruh staf sampai ke kelurahan akan membacanya.
Demikian pula, feed-back dari bawah ke atas timbal balik. Hard copy mungkin
hanya perlu untuk pengangkatan dan mutasi saja.
Bisa dibayangkan, bila mekanisme ini berjalan sempurna, maka sistem
administrasi pemerintahan akan jauh sangat hemat. Tak perlu kertas (paperless
!!), tak perlu ruang arsip, tak ada filling cabinet ditiap ruang. Tak susah
mencari arsip, cukup klik saja, yang dicari segera tersaji. Demikian pula,
pelayanan publik satu pintu, bisa dijanjikan dalam orde jam.
Alangkah efektifnya. Demikian pula interaksi dengan warga kota. Kalau
pemerintah ingin mensosialisasikan suatu gagasan atau kebijakan, tinggal
kirim file ke mailing list (milis) warga kota, maka dalam orde detik seluruh
warga akan menerima informasi dan paham maksudnya. Dalam orde detik pula,
diskusi bisa berkembang sesama warga sehingga dengan sangat cepat menjalar
ke seluruh penjuru.
Bila seluruh komponen kota terintegrasi dalam jaringan internet secara
efektif, terbiasa dengan budaya virtual, Sawahlunto boleh menyebut dirinya
sebagai kota pintar, atau e-town. Warga kota tergolong cyber-communities.
Uwan rasa, waktu ke 2020 cukup dan berlebih.***
kembali ke halaman utama