HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Small Estate di Kutalim Baru

Kantor Uwan di Medan, Bitra indonesia, memiliki program yang mereka namai small estate. Jangan bayangkan hebat karena istilahnya, tapi menarik karena pesona program ini justru terletak pada kesederhanaan logika berpikirnya. Prakteknya, small estate berupa pengefektifan potensi lahan terbatas milik marga sehingga hasilnya optimal. Bila selama ini nyaris monokultur, maka dikembangkan keanekaragamannya dengan menambahkan berbagai jenis tumbuhan produktif lain sehingga diperoleh peningkatan hasil.

Singkatnya mengembangkan kebun monokultur menjadi polikultur. Uwan terlibat sejak awal dalam aktifitas ini, khususnya waktu mendesain, meyakinkan pihak penyandang dana dan memonitor 2 kali setahun.
Awalnya kami mengalokasikan waktu satu minggu diakhir 1993, jalan-jalan ke kampung-kampung pinggiran kota Medan. Perjalanan membuahkan interaksi berketerusan dengan sekelompok marga Sinulinga di desa Sukadame – Kecamatan Kutalim Baru, sejarak 16 kilometer dari jalan raya Medan – Brastagi.

Marga Sinulinga sedikitnya ada 200 KK dengan lahan marga lebih dari 400 hektar. Kawasan ini sangat subur, dimana ditengahnya mengalir sungai Tuntungan yang cukup deras airnya. Walau musim kemarau sekalipun. Kunjungan ke desa harus melalui sungai, bisa bermobil kalau air tak terlalu besar, namun sering harus jalan kaki menyeberang sembari menyingsingkan celana tinggi-tinggi. Kawasan ini terpencil, eksis ditengah-tengah hutan.

Penghasilan penduduk subsisten dari kebun durian, disamping memburuh kekota. Hampir seantero wilayah dipenuhi pohon-pohon durian yang sudah tahunan umurnya sehingga tegakannya tinggi. Nyaris monokultur. Jadinya, penduduk memperoleh  penghasilan tetap sekali setahun dari buah durian, yang rata-rata hanya 25 juta perhektar.

Setelah dialog panjang dan membangun bersama visi marga kedepan, disepakatilah untuk menanam pohon coklat sekitar 1000 – 1300 batang perhektar kebun durian. Disamping itu sebagai by-product lain ditanami pinang, jengkol dan petai. Logikanya waktu itu, disamping rejeki durian, akan diperoleh penghasilan bulanan dari tanaman tambahan tersebut.

Pertemuan intensif berlangsung, berbagai pelatihan diselenggarakan melibatkan seluruh pihak. Mulai pelatihan teknis, sampai tingkat pelatihan penyadaran. Ada pelatihan khusus gender sampai-sampai untuk anak putus sekolah. Pokoknya, semua dilibatkan secara partisipatoris. Penyadaran akan masa depan komunal dibangun berkelanjutan dimana pendampingan dilakukan oleh staf Bitra di lokasi. Artinya, staf tersebut menetap disana dan berbaur sempurna.

Evaluasi Uwan dari monitoring akhir 99 lalu, membuahkan kesimpulan :

  • Lahan marga yang berhasil dikembangkan menjadi polikultur mencapai 362 hektar
  • Terjadi peningkatan penghasilan petani secara signifikan. Untuk satu hektar lahan, disamping dari durian yang nilainya 25 juta, dari coklat diperoleh tambahan 28 juta pertahun pada tingkat harga 3.500 rupiah/ kg.  Belum lagi hasil dari penjualan pinang, jengkol dan petai yang mencapai 21 juta. Total jendral penghasilan meningkat menjadi 74 juta pertahun perhektar. Artinya, rata-rata lebih dari 6 juta perbulan.
  • Karena yang dikembangkan adalah tanaman keras, tentu tak terlalu banyak perawatan.
  • Dari segi ekosistem, perubahan monokultur menjadi polikultur jelas meningkatkan daya lenting alam - kemampuan alam menyembuhkan dirinya sendiri. Buktinya coklat yang ditanam relatif tak banyak terserang penyakit.
  • Dari sudut konservasi, pola small estate ini ideal dikembangkan, khususnya daerah enclave yang tak mungkin ekstensifikasi. Hal mana didukung oleh data studi dua kandidat doktor pertanian dari USU dan UNPAD yang menyusun disertasi tentang hutan kemasyarakatan.
  • Sesuai namanya, pola ini rupanya cocok untuk jenis petani subsisten skala kecil seperti warga desa Sukadame. Tenaga kerja langsung petani sendiri, mengingat lokasinya yang cukup jauh dari sumber tenaga kerja.
Di kampung Uwan, masyarakat subsisten jenis Kutalim Baru ini, juga banyak terdapat. Mungkin pola serupa dapat pula dikembangkan. Masyarakat Pariaman yang berkebun kelapa misalnya, dapat mengkombinasi dengan menanam coklat, kopi atau lainnya di areal yang sama. Tinggal minat dan kemauan untuk memulainya. ***

kembali ke halaman utama