Perjalanan Uwan keliling negeri orang membuahkan kepekaan tersendiri
dalam menyerap potensi wisata. Banyak yang dilihat, sadar menghirup suasana
atraksi dan sensasi keindahan ciptaan Tuhan, adalah berkah yang Uwan peroleh
selama berkelana. Fenomena berkeliling ke berbagai pelosok bumi ini, Uwan
abadikan pada anak kami pertama dan ketiga, mereka bernama Kelana dan Kembara.
Salah satu yang menarik adalah taman kupu-kupu dimana ratusan jenis
kupu-kupu berterbangan di satu kawasan. Indah sekali, berada ditengah lautan
kupu-kupu. Taman kupu-kupu adalah salah satu produk wisata yang banyak
diminati turis. Ada segmen turis yang melakukan perjalanan hanya untuk
menikmati keindahan kupu-kupu. Mereka memotret, membeli offsetnya dan berbagai
nick-nack yang berkaitan dengan kupu-kupu.
Untuk tujuan wisata di Indonesia saja, kita boleh menyebut Bantimurung
di Sulawesi Selatan dan perbukitan di Serui,Yapen Waropen – Papua Barat.
Kedua lokasi ini sudah cukup dikenal oleh wisatawan nusantara. Di Serui,
berkat peran WWF, minat internasional meningkat karena lebih dari seratus
kupu-kupu endemik berkoloni di satu hamparan ketinggian.
Keberadaan kupu-kupu sebagai produk wisata dapat kita tiru untuk dikembangkan
pula di Sumatera Barat. Dengan beragamnya ekosistem propinsi ini, logikanya
akan ada beberapa lokasi potensial yang bisa dikembangkan untuk tujuan
itu. Katakanlah yang sudah mulai ada yakni di cagar alam Harau, Kabupaten
Lima Puluh Kota.
Uwan kerap berkunjung ke Lembah Harau bersama keluarga. Anak-anak senang
sekali mengamati budidaya kupu-kupu yang dikelola Pak Bujang dengan menggunakan
perangkat yang sangat sederhana. Memanfaatkan screen net di belakang rumahnya,
ia lancar berproduksi. Menurutnya, ia dan beberapa warga desa mendapatkan
dukungan pembinaan dari Biologi Unand.
Dalam interaksi kami, Pak Bujang dengan fasih menerangkan proses budidaya
kupu-kupu yang dikelolanya. Lidahnya lancar menyebut ragam kupu-kupu dalam
bahasa latin, diantaranya Papilio memnon, Papilio Karna, Papilio Demolion,
Trogonoptera brookiana, Troides Heliana, Troides Amphirus, Graphium Agamemnon,
Graphium Sarpedon dan lain-lain.
Hasil offset disimpan dalam lempengan kertas minyak dan diawetkan dengan
suasana kotak berkapur barus. Bila jumlahnya sudah memadai, dikirim kepada
pembeli perantara di Bukittinggi yang seterusnya mengirimnya ke Jepang
dan Italia. Tentu dengan harga dolar. Jadi, diam-diam dari pedalaman Harau
sana, Pak Bujang bisa dikatagorikan peternak global.
Nuansa global semakin terasa waktu ia bercerita lanjut bahwa 20 % dari
produknya dilepas lagi ke alam. Katanya, setara tingkat harapan hidup kalau
di alam lepas yakni sekitar 20 % juga. Tak pelak, Pak Bujang terkatagori
pula sebagai seorang environmentalist karena menerapkan prinsip sustainable
yield.
Menumpang keindahan kawasan harau, sudah waktunya investor melirik potensi
ini. Uwan kira, kawasan sebelah kanan entrance gate yakni Sarasah Bunta,
ideal sekali untuk dikembangkan menjadi taman kupu-kupu. Keterampilan sudah
mulai ada tinggal dikembangkan dengan dukungan Biologi Unand. Tak perlu
pembebasan lahan, cukup kerjasama proporsional dengan pemilik ulayat.
Kembangkan areal 10 hektar untuk berbagai jenis tanaman pakan kupu-kupu,
seperti tumbuhan pauh-pauh/ ulam, jenis jeruk-jerukan, murbei dll. Tata
sedemikian rupa, lakukan zonasi. Tetapkan zona pembiakan, kawasan budidaya
dan taman luas untuk pengamatan kupu-kupu alam bagi wisatawan.
Sebagai sebuah bisnis pariwisata, kawasan ini perlu dilengkapi dengan
ecolodge -sarana akomodasi bernuansa alami. Cukup mulai dengan 10 kamar
saja sesuai konsep carrying capacity, kelak hitung berapa kamar mungkin
dibangun setelahnya. Bangunan tidak pakai pendingin, sirkulasi udara maksimal,
akses ke lingkungan penuh dan bebas bahan pencemar sejenis semprotan nyamuk.
Sarana pendukung disempurnakan dengan laboratorium, museum, perpustakaan,
toko cenderamata, plaza terbuka, parkir luas dan manajemen profesional.
Tahap awal, minta pihak Biologi Unand dalam rangka pengabdian kepada
masyarakat, melakukan sosialisasi dan pengembangan SDM. Utamakan anak nagari
pemilik ulayat. Lakukan negosiasi yang menguntungkan kedua belah pihak.
Bayar arsitek berwawasan global dan ahli lansekap untuk merancang areal
pertamanan.
Buat kesepakatan dengan pihak kehutanan dan kabupten tentang pembagian
keuntungan. Kalau perlu didukung Perda khusus. Dudukkan kelembagaan serta
peran dan fungsi masing-masing pihak dalam pengemasan produk wisata Taman
Kupu-Kupu.
Uwan pada tingkat sangat yakin, bila tahu ada produk ini, sedikitnya
pasar wisatawan dari Riau akan datang menyerbu. Tiap minggu dan hari libur.***
kembali ke halaman utama