Pekerjaan memantau kelestarian lingkungan hidup, telah mendamparkan
Uwan kepedalaman Kabupaten Kutai – Long Iram. Musim hujan baru dimulai,
september 1993. Ditemani Kusnadi, kolega aktivis LSM Rekari dari Balikpapan,
perjalanan menyusuri sungai Mahakam cukup mendebarkan. Ketinting kecil
yang kami sewa sesuai kemampuan kantong, bergerak lamban menyusuri pinggir
sungai karena menyongsong arus cukup deras dari hulu.
Penat perjalanan ke hulu hampir tiga hari tiga malam terobati oleh suasana
yang benar-benar alami dan sama sekali “lain”. Masyarakat asli (indigenous
people) yang sangat menghormati hutan tropis ini hidup subsisten mengandalkan
kemurahan alam. Kearifan tradisional yang mereka warisi dari nenek moyangnya
telah menyebabkan mereka hidup berkelanjutan, lestari dalam damai.
Tatanan sosialnya tertata rapi serba “organized”. Beradab kata Nancy
Feluzzo, antropolog Amerika kawan baik Uwan sekali waktu. Hubungan personal
sangat alamiah sehingga waktu bercengkerama dengan para Ibu dan gadis-gadis,
rasanya tak ada sekat buatan. Jangan berasosiasi macam-macam dulu, maksudnya
Uwan dapat dan boleh saja membangun interaksi dengan kaum wanita disana
tanpa perlu dicurigai oleh masyarakat. Namun kalau ketahuan melanggar susila,
hukumnya berat. Kata kepala suku, harus bayar denda besar kalau tidak mau
dipaksa kawin dan menjadi warga suku.
Sebagaimana komunitas dayak lainnya, penampilan mereka sangat eksotis
dengan asessories berupa manik-manik beraneka warna. Ada yang berkilau,
namun banyak pula warna alam. Bulat, persegi, lonjong, ketupat dan kubus.
Warnanya, dari yang cukup kontras sampai netral. Hampir semua warna nampaknya
telah mereka kenal sejak dulu. Semuanya tertata rapi dalam bentuk gelang,
kalung, anting-anting maupun manik-manik ikat pinggang. Uwan sangat tertarik
dengan manik-manik yang mereka kenakan.
Dalam bayangan Uwan, bukan untuk dipakai sebagai manik-manik seperti
mereka. Kemana pula akan dipakai, tentu tak mungkin dipamerkan keliling
kota. Manik-manik tadi Uwan usulkan untuk ditata ulang berdasarkan urutan
warna yang mereka rasakan serasi. Ragam hias berbasis apresiasi pedalaman
Kalimantan. Uwan usulkan untuk menyusun dalam rangkaian butiran 33 dan
99, untuk kelak dijadikan tasbih.
Jadilah, disamping menggali informasi untuk laporan hasil investigasi,
uwan berhasil “membina” mereka untuk menjadi perancang tasbih eksotis itu.
Sewaktu pulang ke kehidupan tak beradab di kota, Uwan dan Kusnadi berhasil
membawa 142 tasbih butiran 99 dan hampir 200 butiran 33. Perjanjiannya,
hasil dibagi dua antara ibu-ibu produsen tasbih dengan Rekari. Untuk koleksi
pribadi dan oleh-oleh, Uwan sendiri membeli 3 tasbih. Satu masih dipakai
hingga sekarang.
Produksi uji coba ini dipasarkan ke pasar wisata kota Balikpapan dan
ke pasar batu-batuan terkenal Martapura di Kalimantan Selatan. Karena eksotis
dan pandai mengemasnya, tasbih ini laku keras. Tiap kemasan diberi untaian
cerita tentang pedalaman, lengkap dengan segala kearifan tradisionalnya.
Dalam waktu tak terlalu lama,sekitar 3 bulan, semua terjual habis. Mungkin
karena orang Banjar banyak yang sudah haji dan segera terapresiasi dengan
keindahan tasbih itu. Harga dipatok 500 ribu rupiah untuk tasbih panjang
dan 150 ribu rupiah untuk tasbih 33. Lumayan, lebih dari 100 juta rupiah
berhasil diraup tuntas.
Oleh Kusnadi, separuh uang bagian Rekari dibelikan buku-buku pelajaran
untuk disumbangkan kepada sekolah dasar di Long Iram yang jauh. Sisanya
25 juta rupiah dijadikan dana abadi awal (endowment funds) yang disiapkan
kelak sebagai beasiswa bagi anak Long Iram yang mau ke perguruan tinggi.
Separuh lagi bagian ibu-ibu, jadinya dibelanjakan bahan pakaian sesuai
pesanan. Sisanya dipersiapkan untuk jatah konsumsi bila waktu para ibu
terpakai untuk berproduksi membuat tasbih.
Belakangan, Uwan dengar sejawat Rekari dari Balikpapan rutin ke Long
Iram untuk mengambil produksi dan kemudian menjualnya ke pasar. Produknya
tidak saja tasbih, tapi telah berkembang bermacam rupa. Tasbih, gelang,
liontin, anting-anting, kemasan ATK, kombinasi untuk tas jinjing, dll.
Rekari menerapkan perdagangan jujur – terbuka (fair trade) untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi masyarakat asli. Pemasaran bahkan sudah berkembang
ke Ujung Pandang dan Jakarta. Kalau tak salah, produk eksotis itu sudah
terpajang pula di lantai 6 Pasar Raya Blok M. Harganya tentu selangit.
Uwan harap harga selalu melangit, yang berdampak linier dengan kehidupan
pedalaman Long Iram.
Di kampung Uwan, terdengar ada pengrajin batu akik yang sejak dulu dibina
oleh Semen Padang. Logika serupa nampaknya perlu dipertimbangkan untuk
mengantarkan produk mereka ke pasar global.***
kembali ke halaman utama