Kolega Uwan dr. Frans Rajahaba pada Oktober 1985 memutuskan berhenti
dari jabatannya sebagai Dokabu sekaligus sebagai pegawai negeri. Putusan
yang cukup menggegerkan NTT waktu itu, mengingat langkanya SDM sarjana
disana dan alasannyapun tak masuk akal. Ia memutuskan untuk total menggeluti
persoalan ekonomi rakyatnya di pulau Sabu, sejarak satu malam perjalanan
kapal kayu reguler mingguan dari Kupang.
Frans memang raja rakyat Sabu dan merasa sudah cukup mengabdi kepada
negara dan ingin fokus membangun kampungnya. Istilah Uwan selalu disebutnya
dalam jumpa kami tahun-tahun berikutnya, yakni : merantau ke kampung.
Untuk itu Frans mendirikan Yayasan Ie Rai, sebuah LSM, yang bertujuan
menggerakkan ekonomi 4000 orang penduduk Sabu melalui produk tenun ikat.
Disamping produk konsumsi kebutuhan lokal, tenunan nyaris satu-satunya
komoditas ekonomi pulau Sabu yang gersang. Kolektor kain tradisional pasti
dapat membedakan kekhasan produk tenunan pulau ini.
Frans mengawali langkah pengembangan dengan proses penyadaran kolektif
akan masa depan komunal berkaitan dengan miskinnya sumber alam Sabu. Lahan
yang bisa diolah sangat sempit dan kering. Sumber air minim karena curah
hujan ekstrim rendah. Sarana transportasi amat jarang, hanya satu kapal
kayu tua melayani trayek Kupang - Sabu sekali seminggu. Itupun kalau sedang
tidak rusak.
Kesadaran kolektif warga akan segala kekurangan wilayah adalah modal
awal kelangkah berikutnya, yakni memacu kearah kesejahteraan ekonomi. Frans
lalu mengembangkan skenario peningkatan ekonomi dengan mencoba mengkapitalisir
produksi tenun ikat. Kelebihannya di bidang desain diperkaya dengan
upacara pembuatan tenunan. Sebelum menenun kaum ibu melakukan ritual budaya
yang prosesinya direkam visual ke dalam kaset video yang diedit sesuai
citarasa rakyat Sabu.
Tradisinya disana, sebelum memulai penenunan, ada upacara adat yang
mengantarkan penenun menjalankan proses kreatifnya. Selama berkonsentrasi
menenun yang biasanya memakan waktu 2 - 6 minggu , tak boleh ada gangguan
dari manapun. Untuk bed cover nomor satu misalnya, membutuhkan waktu sampai
6 minggu. Untuk itu Frans mengemas produk tenun ikat dengan yel-yel “ hanya
4000 penduduk dunia yang bisa menenun seperti itu”.
“Yang dijual adalah lukisan, cerminan budaya bukan sekedar produk masal
biasa”. Kaset video ritual penenunan dan berbagai desain ekspressi rakyat
Sabu ini beredar di Swiss dan beberapa jaringan LSM Eropah Barat atas bantuan
rekan LSM SDC - Bern. Kaset berikut leaflet sekaligus merupakan marketing-kit
untuk pameran dan lelang di Bern pada Agustus 1987.
Uwan masih ingat, musim panas pertengahan Agustus 1987, 10 koper hasil
tenunan Sabu mendarat di Swiss dan dipamerkan di sebuah galeri terkemuka
jalan protokol kota Bern. Poster-poster bertemakan “hanya 4000 penduduk
dunia yang mampu membuatnya” selama seminggu menghiasi kawasan pameran.
Ratusan orang dari Eropah Barat yang umumnya kolektor tenunan tradisional
hadir di arena pameran.
Hasilnya, pada hari terakhir pameran, lelang yang diikuti 121 kolektor
menghasilkan keuntungan bersih cukup besar untuk rakyat Sabu, mendekati
angka 300 juta rupiah. Sebuah angka yang menakjubkan waktu itu. Ditambah
pula dengan 14 pesanan dari beberapa kota mode dunia senilai hampir 1 milyar
!
Seluruh uang didedikasikan untuk memproduksi dan memproduksi. Tahun
1995, waktu terakhir berkunjung ke Kupang, Frans menginformasikan bahwa
pengiriman ke Swiss sudah dilaksanakan sekali sebulan. Swiss menjadi negara
pengimpor tenun ikat Sabu sebelum didistribusi ke beberapa outlet di berbagai
negara.
Perkembangan lainnya adalah produk Sabu sudah merambah pula ke Benua
tetangga Australia, disamping beberapa outlet di Indonesia. Tercatat ada
galeri Ie Rai di Kupang, artshop di Bali dan counter di Pasaraya Blok M.
Rasanya, omzet tak kurang dari angka milyaran rupiah.
Kegiatan ekonomi berbasis tekstil tradisional di Sumbar juga banyak
dan harusnya juga akan demikian hasilnya. Yang diperlukan adalah mengemas
produk itu sehingga menarik minat kolektor. Tentu kita perlu pula merekayasa
sejarahnya sehingga terbangun kapitalisasi potensi. Menurut hemat Uwan,
desain khas Pandai Sikek, Kubang dan Naras berpeluang besar ditengah persaingan
ekonomi pasar saat ini dan kedepan. Namun paling penting, yang paling pertama
dibutuhkan tentulah sentuhan dari inisiator bervisi global.***
kembali ke halaman utama