HOME | BIOGRAPHY | CONTACT | ABOUT EKUATOR |





Wisata Malam

Pertengahan Desember 1994 itu, Uwan menyanggupi ajakan pihak Bank Dunia untuk ikut tim persiapan Coremap melakukan studi komparatif ke Filipina. Tim yang dipimpin resident staff WB almarhum Prof. Dr. Thamrin Nurdin (pernah Ketua Bappeda Sumbar dan Sesmen KLH) ini meninjau pengelolaan dan pola rehabilitasi terumbu karang berbasis masyarakat. Ada beberapa lokasi yang ditinjau, semuanya dikelola dengan pendekatan konservasi. Kami ke Busuanga, ke jajaran kepulauan Palawan dan diakhiri di Tacloban City, propinsi Leyte. Propinsi ini basis pendukung Presiden Marcos karena merupakan kota kelahiran mantan ibu negara Imelda.

Atas undangan Sandra Royo dari Tanggul Kali Kasan, jaringan LSM yang cukup kondang di Filipina, Uwan pribadi diundang makan malam sambil bertukar kisah perkembangan HAM negara masing-masing. Ada banyak yang ikut diskusi waktu itu, kalau tak salah 7 orang. Isi diskusinya tentu tak terlalu relevan disini, yang Uwan mau fokuskan justru suasana makan malam yang penuh kenangan itu.

Kami berkapal barang satu jam dari dermaga kecil  pinggir laut teluk Ormoc, menuju pulau Poro. Pemandangan indah sekali. Kota Ormoc dengan pendar lelampuan yang gemerlap terlihat jelas satu hamparan mata. Perbukitan yang membentang dari Carigara di utara menuju Malitbog di selatan penuh kerlap kerlip kota berlatar kekelaman.
Restoran pinggir pulau dengan ombak berdebur sebenarnya bersahaja. Tidak terlalu mewah dan otomatis tidak mahal, maklum kantong aktifis LSM. Kiat pemasarannya justru karena menu makan malam dihitung sekali bayar, itupun dengan kurs dolar. Walau boleh bayar pakai mata uang peso, untuk gengsi melayangkan dolar jauh lebih ringan rasanya. Kalau tak salah perorang 25 dolar.

Yang mahal terasa adalah suasananya. Makan malam dengan menu produk laut sambil memandang kearah kota di kejauhan. Mengalirlah ikan bakar, udang goreng, kepiting saus tiram, kerang dan tentu saja bir San Miguel khas Filipina yang menggunakan mug kayu. Kami semua makan dengan lahap, sekaligus perbaikan gizi.

Suasana di Poro malam itu tetap membekas dalam memori Uwan. Walau sudah cukup lama, pendar lampu kota kecil Ormoc masih bisa dibayangkan hingga kini. Itulah sensasi wisata malam. Makanya, kalau balik lagi ke Leyte, Uwan pasti ke Poro. Itulah dinamika kaum pengelana.

Kota Padang memerlukan wisata malam yang sehat dan penuh kenangan, sesuai jargon sapta pesona. Tampaknya pola Leyte layak untuk dipertimbangkan dalam mengembangkan produk. Bila salah satu pulau di depan pantai Padang dapat dibangun untuk sebuah restoran yang representatif dengan menu khas produk laut, maka kita tidak perlu berpikir keras lagi kemana akan membawa relasi untuk santai sehat malam hari.

Sebagaimana layaknya restoran menengah atas, para tamu booking dulu di kantor penghubung. Katakanlah bisa mendaftar melalui telepon ataupun internet. Pembayaran untuk transport dan makan malamnya dilakukan sekaligus. Kalau perlu ditakar dengan dolar sehingga kesannya murah meriah. Pukul tujuh malam tepat, memanfaatkan kapal pesiar yang banyak nganggur di pelabuhan marina Batang Harau, tamu-tamu berangkat ke pulau. Silahkan menikmati hidangan malam sepuas-puasnya sambil memandang kota Padang berlatar Bukit Barisan di kekelaman. Silahkan pula membahas bisnis atau apa saja. Pukul 10 tepat waktu, kembali ke darat.

Soal kita apakah ada yang mau investasi untuk restoran jenis ini. Mestinya ada mengingat investasinya tidak terlalu mahal. Namun apakah menguntungkan. Bisa, dengan mengembangkan berbagai manuver bisnis. Misalnya tidak sekedar menawarkan makan malam saja. Tapi hari minggu dan libur buka disiang hari. Kombinasikan dengan berbagai aktifitas lain seperti acara bermain anak-anak.

Disamping itu, kepada investor diberi insentif, antara lain boleh membuat budidaya ikan karang di lokasi yang relevan. Disamping mengisi kebutuhan restoran, boleh pula menjualnya ke daratan. Atau malah ekspor sekalian. Investor perlu memulai membuat lokasi pemancingan tiruan (artificial fishing ground), untuk kelak dibutuhkan bagi para pemancing yang mau melewatkan malamnya yang dingin dengan memancing.

Uwan melihat, pada areal pantai yang memungkinkan, dilakukan pengembangan terumbu karang kembali (coral reef rehabilitation). Kawasan terumbu karang ini kelak dapat dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mulai mengenal keindahan bawah laut. Kita patut mengenalkan perihal terumbu karang sedini mungkin, karena merekalah calon-calon insan bahari kelak dikemudian hari. Kombinasi lainnya adalah game fishing yang dikembangkan menjadi turnamen mancing dengan mengundang berbagai pemancing hobbiest atau profesional. Sekali setahun adakan kejuaraan memancing tingkat nasional. Maka ia menjadi kalender tetap pariwisata kota Padang.***

kembali ke halaman utama